Wednesday, March 14, 2007
Mister Sister Master Angka
Seekor burung besi Garuda jenis Boeing 737 terpuruk di kebun kacang. Badannya terbakar dan 21 orang tewas terpanggang. Kejadiannya tanggal 7/3 (7 Maret 2007). Dua minggu sebelumnya, 22/2 (22 Februari 2007), Kapal Levina I terbakar. Mundur lagi beberapa minggu, pesawat Adam terbawa hawa dan lenyap. Kejadiannya tanggal 1/1 (1 Januari 2007).
Dalam ilmu otak atik gathuk yang entah pencetusnya, tanggal kejadian musibah beruntun itu terpola. Ada yang tanggalnya sama dengan jenis pesawatnya. Sementara lainnya berpola angka kembar antara tanggal dan bulannya.
Ini bukan pertama kalinya para ahli otak atik gathuk beraksi. Analisis waton gathuk pernah diluncurkan beberapa tahun lalu ketika teror gencar ditebar.
Masih ingat kejadian ambruknya menara World Trade Center lantaran ditubruk pesawat komersil? Iya, yang seperti adegan film Holiwood itu. Kejadiannya tanggal 11/9 (11 September 2001). Adegan itu pun dianggap ada sekuelnya yakni Bom Bali I yang terjadi 12/10 (12 Oktober 2002). Dua tangal kejadian itu dihubung-hubungkan, menjadi serial, sambung menyambung.
Mungkin bukan misteri angka yang menarik diperbincangkan. Lebih menarik, siapa pencetus dan penyebar informasi alias si mister ato sister master angka itu. Begitu mengena, sampai nggak sedikit orang yang ikutan membahas, ”kebetulan kecil atau keisengan besar?”
Aku lebih memilih yang kedua. Kupikir, betapa pencetus otak atik angka biar gathuk itu perlu kejelian. Punya kepekaan terhadap angka. Mereka menikmati angka hingga memandangi, merenungi, memimpikan, memikirkan, hingga mencetuskan bahwa suatu angka itu menarik diulik. Kepekaan itulah yang aku tidak punya karena aku bermasalah dengan angka.
Ciri-ciri orang yang bermasalah dengan angka melekat padaku, mulai dari kesulitan menghafal nomor telepon, mengingat nomor alamat, menghitung angka di kolom-kolom excel, sampai harus memeras otak cukup keras untuk melekatkan nomor pin telepon atau rekening di otakku.
Tapi, tunggu dulu. Angka di sini tentu saja tidak sama dengan uang. Alasannya, meski uang itu merupakan lembaran kertas yang berangka, terlekat nilai tukar di situ. Itu sebabnya aku tidak kesulitan mengingat jumlah uang di dompetku dan tepat memperkirakan apa yang bisa kudapat dengan menukarkan uang itu. Lain cerita bila aku harus mengingat berapa nominal di buku kas yang aku buat. (Makanya aku tidak berprofesi sebagai akuntan atau teller bank :-P)
Dalam ilmu otak atik gathuk yang entah pencetusnya, tanggal kejadian musibah beruntun itu terpola. Ada yang tanggalnya sama dengan jenis pesawatnya. Sementara lainnya berpola angka kembar antara tanggal dan bulannya.
Ini bukan pertama kalinya para ahli otak atik gathuk beraksi. Analisis waton gathuk pernah diluncurkan beberapa tahun lalu ketika teror gencar ditebar.
Masih ingat kejadian ambruknya menara World Trade Center lantaran ditubruk pesawat komersil? Iya, yang seperti adegan film Holiwood itu. Kejadiannya tanggal 11/9 (11 September 2001). Adegan itu pun dianggap ada sekuelnya yakni Bom Bali I yang terjadi 12/10 (12 Oktober 2002). Dua tangal kejadian itu dihubung-hubungkan, menjadi serial, sambung menyambung.
Mungkin bukan misteri angka yang menarik diperbincangkan. Lebih menarik, siapa pencetus dan penyebar informasi alias si mister ato sister master angka itu. Begitu mengena, sampai nggak sedikit orang yang ikutan membahas, ”kebetulan kecil atau keisengan besar?”
Aku lebih memilih yang kedua. Kupikir, betapa pencetus otak atik angka biar gathuk itu perlu kejelian. Punya kepekaan terhadap angka. Mereka menikmati angka hingga memandangi, merenungi, memimpikan, memikirkan, hingga mencetuskan bahwa suatu angka itu menarik diulik. Kepekaan itulah yang aku tidak punya karena aku bermasalah dengan angka.
Ciri-ciri orang yang bermasalah dengan angka melekat padaku, mulai dari kesulitan menghafal nomor telepon, mengingat nomor alamat, menghitung angka di kolom-kolom excel, sampai harus memeras otak cukup keras untuk melekatkan nomor pin telepon atau rekening di otakku.
Tapi, tunggu dulu. Angka di sini tentu saja tidak sama dengan uang. Alasannya, meski uang itu merupakan lembaran kertas yang berangka, terlekat nilai tukar di situ. Itu sebabnya aku tidak kesulitan mengingat jumlah uang di dompetku dan tepat memperkirakan apa yang bisa kudapat dengan menukarkan uang itu. Lain cerita bila aku harus mengingat berapa nominal di buku kas yang aku buat. (Makanya aku tidak berprofesi sebagai akuntan atau teller bank :-P)
Labels: Celoteh
