Wednesday, February 21, 2007
Karcis Parkir
Karcis parkir motornya tak juga ia temukan. Sudah sekitar lima belas menit lamanya Arin berdiri di depan pintu toko buku itu. Tangannya sibuk merogohi saku celananya. Berganti-ganti, dari saku yang depan ke saku belakang, lalu dari saku belakang kembali ke saku depan. Karcis itu belum juga ditemukan.
Arin mulai kesal. Wajahnya berkerut-kerut dan alis matanya bertaut. Mulutnya pun berkomat kamit merapal gumaman.
“Sialan! Sialan! Sialan!”
Hujan pun datang. Tampias air hujan di emperan toko memerciki wajahnya kini terlihat lelah. Arin menghela nafas, ia lemparkan pandangan matanya ke langit. Dipejamkannya matanya sebentar.
Sebetulnya ini bukan kali pertama ia teledor. Ia pernah kehilangan karcis parkirnya di toko buku itu juga. Waktu itu pun hujan. Ia sampai bertengkar dengan mbak penjaga loket yang mendendanya lima belas ribu karena kecerobohannya.
“Mahal amat?!” umpatnya waktu itu.
Ia hanya mau membayar sepuluh ribu saja. Pertengkaran itu pun berakhir ketika motor-motor di belakang Arin mulai membunyikan klakson.
“Oiii, lama amat siih!”
Dan mbak penjaga loket pun mengalah.
Arin kembali mengingat-ingat di mana ia selipkan karcis parkir sialan itu. Kesal hatinya karena kembali mengulang kesalahan yang sama di tempat yang sama pula. Ia pun membuka tasnya. Diperiksanya saku kecil di bagian depan. Dikeluarkannya dua buah buku agenda dari saku itu supaya tangannya lebih leluasa mengaduk-aduk saku itu. Nihil.
Arin kembali menghela nafas. Ia tahu, seperti yang sudah pernah dialaminya, karcis itu tidak akan pernah ia temukan. Arin berhenti mencari karcis sialan itu. Ia pun mengeluarkan dompet dan mengambil selembar sepuluh ribuan. Diselipkannya uang itu di saku celananya. Kini ia menunggu hujan sedikit reda.
Arin mulai kesal. Wajahnya berkerut-kerut dan alis matanya bertaut. Mulutnya pun berkomat kamit merapal gumaman.
“Sialan! Sialan! Sialan!”
Hujan pun datang. Tampias air hujan di emperan toko memerciki wajahnya kini terlihat lelah. Arin menghela nafas, ia lemparkan pandangan matanya ke langit. Dipejamkannya matanya sebentar.
Sebetulnya ini bukan kali pertama ia teledor. Ia pernah kehilangan karcis parkirnya di toko buku itu juga. Waktu itu pun hujan. Ia sampai bertengkar dengan mbak penjaga loket yang mendendanya lima belas ribu karena kecerobohannya.
“Mahal amat?!” umpatnya waktu itu.
Ia hanya mau membayar sepuluh ribu saja. Pertengkaran itu pun berakhir ketika motor-motor di belakang Arin mulai membunyikan klakson.
“Oiii, lama amat siih!”
Dan mbak penjaga loket pun mengalah.
Arin kembali mengingat-ingat di mana ia selipkan karcis parkir sialan itu. Kesal hatinya karena kembali mengulang kesalahan yang sama di tempat yang sama pula. Ia pun membuka tasnya. Diperiksanya saku kecil di bagian depan. Dikeluarkannya dua buah buku agenda dari saku itu supaya tangannya lebih leluasa mengaduk-aduk saku itu. Nihil.
Arin kembali menghela nafas. Ia tahu, seperti yang sudah pernah dialaminya, karcis itu tidak akan pernah ia temukan. Arin berhenti mencari karcis sialan itu. Ia pun mengeluarkan dompet dan mengambil selembar sepuluh ribuan. Diselipkannya uang itu di saku celananya. Kini ia menunggu hujan sedikit reda.
Labels: Pernik
Comments:
<< Home
Sepertinya, uda familiar nih dengan kejadian ini....?
soalnya kemarin bukan di toko buku, but di Bank, slip penyetoran uang gak tau dimana naruhya, uda keliling2 gak taunya ada di dalam box kuliah. Kesel banget, mana uda jauh dari bank, ya untung gak ada dendanya...:))
Bagus...
tuker link dong:
http://belumngantuk.wordpress.com/
or
http://creativeinfo.blogspot.com/
thank b4, keep contaq aj
soalnya kemarin bukan di toko buku, but di Bank, slip penyetoran uang gak tau dimana naruhya, uda keliling2 gak taunya ada di dalam box kuliah. Kesel banget, mana uda jauh dari bank, ya untung gak ada dendanya...:))
Bagus...
tuker link dong:
http://belumngantuk.wordpress.com/
or
http://creativeinfo.blogspot.com/
thank b4, keep contaq aj
tulisan ini dah lama aku baca, karena error ngirimnya, aku baru bisa sekarang kirim komentar.
Tips agar karcis tak raib:
Ditelan dulu itu karcis, pake air putih atau susu hangat juga OK...trus waktu mau pulang, temanmu suruh minum jamu urus2 biar muntah....Ke luar deh itu karcis...
Solusi cerdas kan?
Post a Comment
Tips agar karcis tak raib:
Ditelan dulu itu karcis, pake air putih atau susu hangat juga OK...trus waktu mau pulang, temanmu suruh minum jamu urus2 biar muntah....Ke luar deh itu karcis...
Solusi cerdas kan?
<< Home

