Friday, January 26, 2007
Mengobrol Mengobral Mimpi
Sepotong surat elektronik yang bersemangat datang sore tadi. Surat itu menceritakan bagaimana temanku yang baru pulang dari Singapura. Mungkin kalau ia datang ke negeri itu untuk menjadi turis aku tidak tertarik. Tapi aku menjadi ikut bersemangat karena ia datang ke negeri jiran yang kaya itu untuk menjajal kerja di situ. Ia diundang datang untuk wawancara kerja di Yahoo!South East Asia.
Berita gembiranya memang menggugahku sore tadi. Setelah surat elektroniknya kubaca, beberapa menit kemudian datang pesan singkatnya. Dari pesan itu aku pun tahu bahwa hatinya sedang berbunga-bunga tiada tara. Dua tulisannya berhasil menembus BIP Gramedia dan Andi Publishing. Bukunya akan diterbitkan dalam waktu dekat ini.
Aku jadi teringat tentang suatu waktu ketika aku mengobrol dengannya. Obrolan sederhana yakni bagaimana kita tetap bermimpi dan hidup untuk menwujudkan mimpi itu. Ceritanya ke Singapura itulah yang mengingatkanku untuk tetap menggenggam mimpiku. Tepat ketika aku sedang lelah untuk memimpikan sesuatu.
Hidup seperti di atas tangga berjalan dalam sebuah mal, begitu katanya pada suatu waktu. Itu perumpamaan yang aneh menurutku. (Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur menerima bahwa cara berpikir temanku itu memang aneh.)
Logikanya, kehidupan adalah malnya. Ada banyak barang, ada banyak pilihan. Dan tangga berjalan itu adalah alat kita untuk ke tempat yang kita tuju. Terserah kita. Mau naik, atau mau turun. Tergantung ke mana kita ingin melangkah. Tidak jelas memang perumpamaan itu. Sama tidak jelasnya ketika dia menjawab pertanyaanku: lalu untuk apa lift di situ?
Kami berdua memang suka menulis. Kini, kami masing-masing masih menulis. Bedanya, dia menulis dengan semangat membebaskan pikiran sementara aku menulis dengan semangat kejar tayang.
Kabar gembiranya menyemangatiku separuh hari ini. Paling tidak aku menjadi sedikit terhibur. Dua minggu ini aku sedikit muram karena orang yang biasanya setia mendengarkan ocehanku denganku kini sedang disibukkan dunia barunya …
Jadi, mari mengobrol lagi. Sapa tahu membuatku bersemangat untuk mulai bermimpi!
Berita gembiranya memang menggugahku sore tadi. Setelah surat elektroniknya kubaca, beberapa menit kemudian datang pesan singkatnya. Dari pesan itu aku pun tahu bahwa hatinya sedang berbunga-bunga tiada tara. Dua tulisannya berhasil menembus BIP Gramedia dan Andi Publishing. Bukunya akan diterbitkan dalam waktu dekat ini.
Aku jadi teringat tentang suatu waktu ketika aku mengobrol dengannya. Obrolan sederhana yakni bagaimana kita tetap bermimpi dan hidup untuk menwujudkan mimpi itu. Ceritanya ke Singapura itulah yang mengingatkanku untuk tetap menggenggam mimpiku. Tepat ketika aku sedang lelah untuk memimpikan sesuatu.
Hidup seperti di atas tangga berjalan dalam sebuah mal, begitu katanya pada suatu waktu. Itu perumpamaan yang aneh menurutku. (Tapi ya sudahlah, aku sudah terlanjur menerima bahwa cara berpikir temanku itu memang aneh.)
Logikanya, kehidupan adalah malnya. Ada banyak barang, ada banyak pilihan. Dan tangga berjalan itu adalah alat kita untuk ke tempat yang kita tuju. Terserah kita. Mau naik, atau mau turun. Tergantung ke mana kita ingin melangkah. Tidak jelas memang perumpamaan itu. Sama tidak jelasnya ketika dia menjawab pertanyaanku: lalu untuk apa lift di situ?
Kami berdua memang suka menulis. Kini, kami masing-masing masih menulis. Bedanya, dia menulis dengan semangat membebaskan pikiran sementara aku menulis dengan semangat kejar tayang.
Kabar gembiranya menyemangatiku separuh hari ini. Paling tidak aku menjadi sedikit terhibur. Dua minggu ini aku sedikit muram karena orang yang biasanya setia mendengarkan ocehanku denganku kini sedang disibukkan dunia barunya …
Jadi, mari mengobrol lagi. Sapa tahu membuatku bersemangat untuk mulai bermimpi!
Labels: Celoteh
