Sunday, October 22, 2006
Suatu Pagi di Jatinegara
Di depan pembelian tiket langsung. Seorang bapak usia empat puluhan bersusah payah keluar dari kerumunan orang yang berjubel di depan tiket. Setelah berhasil, ia berjongkok di bawah plakat besar jadwal kereta dan harga tiket ke semua tujuan. Dibukanya selembar kertas dalam genggaman tangan kanannya. Perlahan. Lalu dengan perlahan pula ia melipat uang tiga puluh ribu sisa pembelian tiket di tangan kirinya. Dan di bibirnya tergantung senyum setengah.
Ia membuka percakapan dengan seorang perempuan di sebelahnya.
+ Wah, tiket hari ini sudah habis. Akhirnya saya beli untuk pulangnya saja, tanggal 27 Oktober.
Tak jelas betul nada bicaranya, kecewa atau separuh bahagia.
- Emang bapak mo pergi ke mana?
Sungguh perempuan itu berniat baik, mau menanggapi omongan si bapak.
+ Ke Blitar. Ini saya sudah punya untuk kembali ke sini.
- Terus gimana kalau tidak dapet tiket juga?
+ Gak papa. Saya mau menunggu sebentar lagi, katanya mau ada kereta tambahan.
Si bapak tidak melanjutkan obrolan, dan perempuan itu pun kembali dalam lamunannya.
***
Seorang perempuan menebar pandangan. Ia mencari-cari ruang kosong di sela-sela kerumunan orang yang sedang menunggu kereta. Sementara itu tangannya masih sibuk melipat tiket. Segera dimasukkannya tiket itu ke dalam saku celananya. Ia baru saja menerima tiket itu dari penjaga pintu masuk setelah di atasnya diberi coretan kecil dengan bolpoin.
Stasiun dijejali orang. Duduk, berdiri, berbaring. Sendiri berkelompok. Di antara aroma peluh ribuan orang, ada wajah-wajah sumringah, karena mau pulang kampung, karena mau bertemu keluarga, karena dapat THR, ato karena mendadak tau apa yang harus dirayakan dalam hidupnya.
Ia terpaku pada seorang bocah yang duduk di lantai stasiun. Bocah berumur sekitar tiga tahun itu tampak asyik mengunyah kue. Sementara ibunya jongkok di dekatnya asyik membaca tabloid. Mereka terlihat tak peduli pada lantai keramik stasiun yang warnanya tak lagi putih. Semeter dari ibu dan anak itu ada tong yang dipenuhi sampah.
+ Perhatian, kereta Purwojaya jurusan cilacap segera memasuki jalur satu.
Dengan tergesa kereta itu memasuki stasiun. Debu-debu beterbangan bercampur dengan aroma kencing bercampur sampah. Si perempuan menutup hidungnya dengan tangannya, berharap debu beraroma itu tak terhirup. Dilihatnya ibu dan anak itu pun naik kereta itu dengan tergesa. Sama tergesanya dengan kereta yang bergerak keluar dari stasiun. Dan debu-debu pun kembali menghambur.
Tak lama, kereta perempuan itu datang. Ia mendadak sumringah. Kini ia tahu apa yang harus ia rayakan. Hidup sudah terlalu berbaik hati padanya. Dalam hati berkali-kali ia berbisik, Mari kita rayakan! Mari kita rayakan!
------------------------------------
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin
-------------------------------------
Ia membuka percakapan dengan seorang perempuan di sebelahnya.
+ Wah, tiket hari ini sudah habis. Akhirnya saya beli untuk pulangnya saja, tanggal 27 Oktober.
Tak jelas betul nada bicaranya, kecewa atau separuh bahagia.
- Emang bapak mo pergi ke mana?
Sungguh perempuan itu berniat baik, mau menanggapi omongan si bapak.
+ Ke Blitar. Ini saya sudah punya untuk kembali ke sini.
- Terus gimana kalau tidak dapet tiket juga?
+ Gak papa. Saya mau menunggu sebentar lagi, katanya mau ada kereta tambahan.
Si bapak tidak melanjutkan obrolan, dan perempuan itu pun kembali dalam lamunannya.
***
Seorang perempuan menebar pandangan. Ia mencari-cari ruang kosong di sela-sela kerumunan orang yang sedang menunggu kereta. Sementara itu tangannya masih sibuk melipat tiket. Segera dimasukkannya tiket itu ke dalam saku celananya. Ia baru saja menerima tiket itu dari penjaga pintu masuk setelah di atasnya diberi coretan kecil dengan bolpoin.
Stasiun dijejali orang. Duduk, berdiri, berbaring. Sendiri berkelompok. Di antara aroma peluh ribuan orang, ada wajah-wajah sumringah, karena mau pulang kampung, karena mau bertemu keluarga, karena dapat THR, ato karena mendadak tau apa yang harus dirayakan dalam hidupnya.
Ia terpaku pada seorang bocah yang duduk di lantai stasiun. Bocah berumur sekitar tiga tahun itu tampak asyik mengunyah kue. Sementara ibunya jongkok di dekatnya asyik membaca tabloid. Mereka terlihat tak peduli pada lantai keramik stasiun yang warnanya tak lagi putih. Semeter dari ibu dan anak itu ada tong yang dipenuhi sampah.
+ Perhatian, kereta Purwojaya jurusan cilacap segera memasuki jalur satu.
Dengan tergesa kereta itu memasuki stasiun. Debu-debu beterbangan bercampur dengan aroma kencing bercampur sampah. Si perempuan menutup hidungnya dengan tangannya, berharap debu beraroma itu tak terhirup. Dilihatnya ibu dan anak itu pun naik kereta itu dengan tergesa. Sama tergesanya dengan kereta yang bergerak keluar dari stasiun. Dan debu-debu pun kembali menghambur.
Tak lama, kereta perempuan itu datang. Ia mendadak sumringah. Kini ia tahu apa yang harus ia rayakan. Hidup sudah terlalu berbaik hati padanya. Dalam hati berkali-kali ia berbisik, Mari kita rayakan! Mari kita rayakan!
------------------------------------
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin
-------------------------------------
Labels: Pernik
Comments:
<< Home
met lebaran ya Ndah..
Maaf lahir bathin..
well, jadi inget ke sebuah lebaran di beberapa tahun yang lalu, waktu kita masih bersama-sama.. rasanya sudah lama banged yaa.. jadi kangen sama kalian semua..
Post a Comment
Maaf lahir bathin..
well, jadi inget ke sebuah lebaran di beberapa tahun yang lalu, waktu kita masih bersama-sama.. rasanya sudah lama banged yaa.. jadi kangen sama kalian semua..
<< Home

