Tuesday, October 10, 2006

 

Jam yang Berdetak Malas

Aku jenuh. Sudah beberapa hari ini aku hidup seperti kehilangan ruh. Lagi-lagi aku mengumpat pada rutinitas sialan yang mengunciku dalam ruang hampa bernama kerjaan. Aku masih harus bersyukur, yang kutemui setiap hari tak pernah sama. Pak Anu di kantor itu, ato Bu Eta di kantor ini. Tidak sama. Yang kubicarakan bersama orang-orang itu pun tak pernah sama setiap harinya. Pupuk, beras, angkutan, harga sembako, tekstil, pupuk, beras, garmen, teh, sembako, beras, ujian paket C, waduk Jatiluhur, situ, beras ...

Aku jenuh.

Setiap menitnya, aku bergerak mengikuti jam matahariku, menepati jam kebutuhanku. Jamku memang tak pernah sama. Aku tak punya jam kantor, yang memaksaku untuk selalu berada di kantor tepat jam delapan seperti orang-orang pada umumnya. Aku pun tak punya bel pulang ke rumah yang membuatku harus beranjak dari kantor tepat jam lima sore. Dan aku pun tak lagi berharap punya waktu mengulum seteguk teh yang hangat bersama orang-orang yang hangat. Ataupun bermimpi memamah kue nastar bersama orang-orang yang manis.

Tidak.

Aku punya jam khusus yang membuatku harus berputar mengikuti gravitasinya. Jam itu berdetik mengikuti ketikan keyboard komputer, dan jarumnya berputar searah isu yang bergulir. Idealisme diharapkan menjadi batere yang menggerakkan jam itu secara mekanis. Dan hariku dipaksa menggelinding mengikuti itu semua. Tidak peduli aku megap-megap mengejarnya, dan tidak peduli otakku terengah-engah memburunya.

Tapi sekarang aku (kembali) jenuh. Jamku kembali berdetak malas.

Labels:


Comments:
honey, gravitasi pake huruf "V" bukan "F"
 
mana? mana? :P Udah kubenerin tuh :X
 
Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.