Friday, July 28, 2006
Cerita Orang Tua di Stasiun yang Suram

Seorang tua setengah linglung yang melakukan perjalanan ulang alik dengan kereta api. Lokomotif mendengus-dengus menarik gerbong. Tautan gerbong demi gerbong berderit-derit, disela gesekan besi dengan besi, mengiringi lokomotif yang sesekali menjerit. Kereta melewati stasiun demi stasiun, menurunkan wajah-wajah kelelahan, meninggalkan muka-muka lusuh dalam penantian.
Orang tua itu sungguh diceritakan linglung. Digambarkan selalu menenteng kopor dan menggenggam tiket bernomor. Dalam kereta yang ditumpanginya pikirannya entah kemana. Ditanya kondektur hendak kemana pun ia bingung, pun di akhir cerita ia bahkan tidak mengenali lagi kopor yang ditenteng-tentengnya itu. Hingga sempat ia dituduh mencuri kopor itu dari seorang perempuan.
Orang tua itu memang linglung. Pikirannya selalu kemana-mana mengingat potongan-potongan peristiwa yang sudah dia lalui. Juga potongan-potongan cerita yang mungkin hanya ada di kepalanya saja. Hingga datangnya seorang lelaki muda yang menemuinya di depan toilet kereta api yang sempit dan bau. Lelaki muda itu bertanya pada orang tua itu, "Pernahkah kau merasa sunyi, .. padahal kamu mempunyai pekerjaan, penghasilan, keluarga, teman, rencana, masa depan, dan harapan?"
Itu ada dalam novel yang sedang kubaca. Novel yang menarik. Bersampul gambar lokomotif berwarna suram kehjau-hijauan. Sepertinya lokomotif itu hendak memasuki stasiun. Karena aku bisa melihat pilar besi penyangga stasiun yang mengintip di sisi kanan sampul itu. Yup, seperti gambar sampulnya, seluruh isi buku itu bercerita tentang kehidupan di atas gerbong kereta api. Kehidupan yang berpapasan dengan kehidupan lain ketika kereta itu menyinggahi stasiun demi stasiun.
Aku menemukan novel itu di toko buku kecil di jalan Lengkong. Toko buku kecil yang mengingatkanku pada model toko buku diskon di Yogya. Sampul buku itu menarik perhatianku tidak sengaja ketika tanganku membolak balik buku-buku yang diberdirikan berjejer-jejer. Dan kuputuskan untuk membelinya. Imajinasiku sudah terlanjur menari-nari ketika mataku tertumbuk pada judul novel itu. Stasiun.
Sudah beberapa hari ini aku membaca potong demi potong kisah itu, sesaat sebelum tidur, sesaat ketika sarapan, sesaat ketika menunggu orang di ruang tunggu kantor, dan sesaat sesaat yang lain. Tapi sepertinya aku salah memilih bacaan. Bukan karena novel itu tidak bagus, bukan juga karena aku tidak suka novel itu.
Cerita yang suram itu sepertinya makin bikin pikiranku makin kusut saja.
Comments:
<< Home
kamu inget sama stasiun tugu dan stasiun besar bandung, ya? stasiun adalah tempat yg romantis, mempertemukan dan memisahkan sepasang kekasih.
sabar, ya :(
Post a Comment
sabar, ya :(
<< Home

