Sunday, May 07, 2006
Hujan
Seorang lelaki nyaris terlelap ketika hujan turun
Ini menjelang waktu tidur siangnya
Ting-ting.. hujan itu mulai berdenting di kepalanya
Mengingatkan pada kekasihnya
Kekasih yang setiap pagi dendangnya ia rindukan
Ia merindukan kekasihnya seperti bumi yang merindukan hujan
Seperti matahari yang membiaskan cahayanya dalam hujan
Begitu sederhana
Berlalu sepeti halnya waktunya yang kini membatu
Ia selalu melihat senyum kekasihnya ketika hujan datang
Lelaki itu pun beranjak
Dari jendela dilihatnya bukit di sana
Hujan telah membawa kabut
Putih bergumpal-gumpal
Lelaki itu membuka pintu rumahnya
Berharap seseorang akan datang senja itu
Tidak ada seorang pun di sana
Yang terlihat hanya tetes air atap terasnya
Jatuh satu persatu
Melubangi tanah membentuk deretan lubang-lubang kecil
Mungkin seperti hatinya yang juga berlubang?
Entahlah
Dipersilahkannya hujan masuk
"Masuklah, nanti kau kedinginan!"
Hujan berdenting-denting
Bertambah semangat memainkan repertoarnya
Kini jendela rumah itu pun diketuk-ketuknya
Dan lelaki itu pun mulai mengetuk-ketukkan kakinya
Mengikuti irama hujan
"Kenapa baru sekarang kamu datang?"
Dan hujan pun tersenyum
Diajaknya lelaki itu berdansa bersamanya
Dan lelaki itu pun menyambutnya
Keesokan pagi
Seorang lelaki berambut putih
Wajah tangan dan kakinya pun memutih pucat
Ditemukan terbaring di atas tanah basah
Bibirnya menyungging senyum
Seperti hujan yang telah tersenyum padanya
Sepanjang malam itu
Bandung 07/06/06
Ketika hujan memahat senyum kekasihku di teras
Ini menjelang waktu tidur siangnya
Ting-ting.. hujan itu mulai berdenting di kepalanya
Mengingatkan pada kekasihnya
Kekasih yang setiap pagi dendangnya ia rindukan
Ia merindukan kekasihnya seperti bumi yang merindukan hujan
Seperti matahari yang membiaskan cahayanya dalam hujan
Begitu sederhana
Berlalu sepeti halnya waktunya yang kini membatu
Ia selalu melihat senyum kekasihnya ketika hujan datang
Lelaki itu pun beranjak
Dari jendela dilihatnya bukit di sana
Hujan telah membawa kabut
Putih bergumpal-gumpal
Lelaki itu membuka pintu rumahnya
Berharap seseorang akan datang senja itu
Tidak ada seorang pun di sana
Yang terlihat hanya tetes air atap terasnya
Jatuh satu persatu
Melubangi tanah membentuk deretan lubang-lubang kecil
Mungkin seperti hatinya yang juga berlubang?
Entahlah
Dipersilahkannya hujan masuk
"Masuklah, nanti kau kedinginan!"
Hujan berdenting-denting
Bertambah semangat memainkan repertoarnya
Kini jendela rumah itu pun diketuk-ketuknya
Dan lelaki itu pun mulai mengetuk-ketukkan kakinya
Mengikuti irama hujan
"Kenapa baru sekarang kamu datang?"
Dan hujan pun tersenyum
Diajaknya lelaki itu berdansa bersamanya
Dan lelaki itu pun menyambutnya
Keesokan pagi
Seorang lelaki berambut putih
Wajah tangan dan kakinya pun memutih pucat
Ditemukan terbaring di atas tanah basah
Bibirnya menyungging senyum
Seperti hujan yang telah tersenyum padanya
Sepanjang malam itu
Bandung 07/06/06
Ketika hujan memahat senyum kekasihku di teras
