Thursday, September 27, 2007
Matahari Pakai Payung … Mau Shoping, nih?
Belum genap jam 11 ketika kami di dalam ruangan ber AC dikejutkan oleh teriakan Yenti, “Lihat-lihat matahari, bagus banget deh!” sambil berlari-lari menuju jendela.
Sontak yang lain mengikuti. Benar saja. Dari jendela mati di dinding itu terlihat matahari siang itu tidak biasa. Ada cincin pelangi di sekelilingnya. Matahari jadi seperti bola api kecil di tengah lingkaran besar.
Rombongan yang kegirangan dengan fenomena menakjubkan itu segera berlari ke lantai lima. Dari lantai puncak gedung jelas terlihat bagaimana cantiknya sang matahari yang terlihat sedang dipayungi bayangan gelap tepat di atas kepala kami.
Tak sabar ingin berbagi cerita tentang pemandangan menakjubkan itu, aku pun mengirimkan pesan singkat ke beberapa teman salah satunya tentu ke pasangan duet mawutku: si tetangga kamar kos.
Niks, matahari bgs. Cepat2!
Beberapa menit kemudian muncul balasan yang tak kalah menakjubkan.
Bgs-mksdmu bigsale?kpn gt?akhrny aq g kmana2 ndah.
Tobaaat.... Rupanya si tetangga kamar itu mengira topik siang itu adalah Matahari yang jualan segala macam barang. Ada yang shoping minded ternyata!
Sontak yang lain mengikuti. Benar saja. Dari jendela mati di dinding itu terlihat matahari siang itu tidak biasa. Ada cincin pelangi di sekelilingnya. Matahari jadi seperti bola api kecil di tengah lingkaran besar.
Rombongan yang kegirangan dengan fenomena menakjubkan itu segera berlari ke lantai lima. Dari lantai puncak gedung jelas terlihat bagaimana cantiknya sang matahari yang terlihat sedang dipayungi bayangan gelap tepat di atas kepala kami.
Tak sabar ingin berbagi cerita tentang pemandangan menakjubkan itu, aku pun mengirimkan pesan singkat ke beberapa teman salah satunya tentu ke pasangan duet mawutku: si tetangga kamar kos.
Niks, matahari bgs. Cepat2!
Beberapa menit kemudian muncul balasan yang tak kalah menakjubkan.
Bgs-mksdmu bigsale?kpn gt?akhrny aq g kmana2 ndah.
Tobaaat.... Rupanya si tetangga kamar itu mengira topik siang itu adalah Matahari yang jualan segala macam barang. Ada yang shoping minded ternyata!
Labels: Celoteh
Wednesday, September 26, 2007
Cerita Angin
Semalam angin bercerita tentang sebuah negeri yang jauh. Negeri di ujung timur dengan hamparan laut biru kehijauan dan padang coklat kemerahan.
”Kau tau, mengapa lautnya begitu biru?” tanya angin. Senja yang duduk dihadapannya menggeleng. ”Karena itu adalah laut kesedihan yang menampung tangisan ribuan orang.”
Senja terhenyak. Tak pernah ia tahu ada kesedihan yang dapat meluap sedemikian hebat dan terabadikan dalam lautan yang bertahan ribuan abad.
”Penduduk negeri menangis ribuan tahun, hati mereka yang telah beku dan membiru larut terbawa hujan. Mengaliri lembah, memenuhi anak-anak sungai. Sampai di laut, larutan biru mengubah laut yang semula berwarna hijau rumput menjadi kebiruan.” tutur angin lembut.
Angin berhembus pelan. Ia mengatur nafasnya sebelum memulai lagi ceritanya. ”Semua membiru, hanya padangnya yang tidak. Aku melihat semuanya senja, bagaimana hamparan padang itu memerah karena tergenang darah. Darah para pemberani yang terbuang dalam kesia-siaan. Sejak itu tak satu batang rumput pun dapat tumbuh. Tanahnya menjadi gersang berwarna coklat kemerahan.”
”Tidak tidak, aku bahkan tak mau lagi ke sana. Dan tak ada yang mau. Aku hanya melihatnya lewat sebuah celah sempit. Kini ada tembok setinggi manusia berdiri yang memisahkan kematian dan kehidupan. Tak ada yang mau mengantarku masuk.”
”Negeri itu indah namun tak bertuan, senja. Hanya ada seorang guru yang kutemui pada sebuah kapal yang bergegas berlayar meninggalkan negeri itu. Darinya aku tahu, negeri itu sudah terlalu berdarah untuk dipertahankan.”
Semalam angin bercerita tentang tragedi di sebuah negeri. Tragedi di Santa Cruz, Dili 12 November 1991.
”Kau tau, mengapa lautnya begitu biru?” tanya angin. Senja yang duduk dihadapannya menggeleng. ”Karena itu adalah laut kesedihan yang menampung tangisan ribuan orang.”
Senja terhenyak. Tak pernah ia tahu ada kesedihan yang dapat meluap sedemikian hebat dan terabadikan dalam lautan yang bertahan ribuan abad.
”Penduduk negeri menangis ribuan tahun, hati mereka yang telah beku dan membiru larut terbawa hujan. Mengaliri lembah, memenuhi anak-anak sungai. Sampai di laut, larutan biru mengubah laut yang semula berwarna hijau rumput menjadi kebiruan.” tutur angin lembut.
Angin berhembus pelan. Ia mengatur nafasnya sebelum memulai lagi ceritanya. ”Semua membiru, hanya padangnya yang tidak. Aku melihat semuanya senja, bagaimana hamparan padang itu memerah karena tergenang darah. Darah para pemberani yang terbuang dalam kesia-siaan. Sejak itu tak satu batang rumput pun dapat tumbuh. Tanahnya menjadi gersang berwarna coklat kemerahan.”
”Tidak tidak, aku bahkan tak mau lagi ke sana. Dan tak ada yang mau. Aku hanya melihatnya lewat sebuah celah sempit. Kini ada tembok setinggi manusia berdiri yang memisahkan kematian dan kehidupan. Tak ada yang mau mengantarku masuk.”
”Negeri itu indah namun tak bertuan, senja. Hanya ada seorang guru yang kutemui pada sebuah kapal yang bergegas berlayar meninggalkan negeri itu. Darinya aku tahu, negeri itu sudah terlalu berdarah untuk dipertahankan.”
Semalam angin bercerita tentang tragedi di sebuah negeri. Tragedi di Santa Cruz, Dili 12 November 1991.
Labels: Celoteh
Sunday, September 23, 2007
Seminggu Meja Baru
Aku punya meja baru yang kubeli minggu lalu di Lapangan Gasibu. Meja itu terbuat dari kayu tak berplitur. Kaki-kakinya langsing kecil yang bisa dilipat ke badan meja persis seperti meja setrika. Sementara permukaan meja dibungkus kain warna hitam yang di atasnya terpampang gambar mobil BMW yang juga hitam. Seluruh permukaan meja itu dilapisi plastik bening.
Di antara tumpukan meja model serupa di Lapangan Gasibu, meja itulah yang paling sempurna. Paling tidak, gambar BMW tertempel mulus, kaki mejanya tidak doyong ke kanan atau ke kiri, dan yang pasti permukaannya cukup lebar untuk menampung rentangan dua siku tanganku. Yak yak, meja seharga 25 ribu itu membuat niat belajarku berkobar-kobar!
Iya belajar! Sudah hampir empat bulan ini aku ikut les bahasa Perancis kelas dasar banget. Dan selama itu pula aku menyalin catatan, membaca diktat, atau membuat flash card dengan menelungkupkan badanku di lantai. Jelas lah pegel. Posisi tulang punggung yang tidak semestinya bikin punggungku nyeri.
Nyeri punggung itu juga yang lantas membuatku berpikir betapa nyaman jika aku punya meja kecil nan praktis lagi ringan sebagai tempat menulis apapun. Bagaimana pun juga meja itu akan mendukung kebiasaanku menulis mulai dari hal penting seperti pembukuan pribadi yang selalu tekor hingga pembukuan harian celoteh yang isinya banyak gak penting. Dan bagai botol bertemu tutupnya, keinginanku pun membayang nyata ketika tetangga sebelah kamar membeli meja kecil nan praktis lagi ringan. Dia pula yang membawaku ke bapak penjual meja di Lapangan Gasibu itu.
Tapi keinginan tak selalu seiring kenyataan. Sudah seminggu meja baru itu di kamarku, aku belum menggunakannya. Padahal, niatnya semula adalah "kalau punya meja kecil nan praktis lagi ringan, aku akan rajin belajar." Ternyata kok ya tidak ...
Di antara tumpukan meja model serupa di Lapangan Gasibu, meja itulah yang paling sempurna. Paling tidak, gambar BMW tertempel mulus, kaki mejanya tidak doyong ke kanan atau ke kiri, dan yang pasti permukaannya cukup lebar untuk menampung rentangan dua siku tanganku. Yak yak, meja seharga 25 ribu itu membuat niat belajarku berkobar-kobar!
Iya belajar! Sudah hampir empat bulan ini aku ikut les bahasa Perancis kelas dasar banget. Dan selama itu pula aku menyalin catatan, membaca diktat, atau membuat flash card dengan menelungkupkan badanku di lantai. Jelas lah pegel. Posisi tulang punggung yang tidak semestinya bikin punggungku nyeri.
Nyeri punggung itu juga yang lantas membuatku berpikir betapa nyaman jika aku punya meja kecil nan praktis lagi ringan sebagai tempat menulis apapun. Bagaimana pun juga meja itu akan mendukung kebiasaanku menulis mulai dari hal penting seperti pembukuan pribadi yang selalu tekor hingga pembukuan harian celoteh yang isinya banyak gak penting. Dan bagai botol bertemu tutupnya, keinginanku pun membayang nyata ketika tetangga sebelah kamar membeli meja kecil nan praktis lagi ringan. Dia pula yang membawaku ke bapak penjual meja di Lapangan Gasibu itu.
Tapi keinginan tak selalu seiring kenyataan. Sudah seminggu meja baru itu di kamarku, aku belum menggunakannya. Padahal, niatnya semula adalah "kalau punya meja kecil nan praktis lagi ringan, aku akan rajin belajar." Ternyata kok ya tidak ...
Labels: Celoteh
Monday, September 03, 2007
Suatu Siang di Gedung Sialan
Memasuki pelataran parkir gedung di sudut Jalan Japati. Perasaanku sudah tidak tenang. Sepotong masa lalu sekilas lewat.
Aku parkir motorku tepat di bawah pohon beringin rindang. Parkiran motor yang penuh itu membuat aku dan motorku harus berdesak-desakan. Tapi sesungguhnya emosiku yang saat itu terdesak. Segumpal memori melesak menggedor jantung dan paru-paruku.
Aku harus menghadapinya... Jantungku mendetakkan irama teratur: nal nal nal.. jangan emosional!
Aku menjejakkan kaki di teras gedung. Pintu kaca yang diprogram otomatis sontak terbuka. Jantungku masih sama mendetakkan irama teratur: nal nal nal ... jadilah profesional!
Kurasakan wajahku memanas. Aku tahu tidak akan menemukan wajah lelaki itu di gedung itu. Tentu saja, karena tempatnya memang bukan di situ. Tapi gedung sialan itu mengingatkanku pada impian dan harapannya.
Yang kutemui siang tadi adalah seorang front officer merangkap operator telepon yang duduk dengan malas. Tanpa senyum dia menyapaku. Dari punggungnya yang selalu bersandar di kursi empuknya itu, dan kepala yang sedikit doyong dari badannya, aku tahu, dia malas menerimaku. Aku pun memasang tampang tak kalah malas. Tak ada basa-basi. Tak ada kata permisi. Aku ingin bergegas pergi.
Sampai di parkiran aku cuma bisa mengutuki diriku. Baru beberapa bulan, dan rasa itu masihlah bercokol di dadaku. Hunjaman pisau itu terlalu dalam. Meski sudah tercabut, bekas pisau menanggalkan luka yang masih basah. Saat itu juga aku berdoa semoga luka itu tidak menjadi borok di tubuhku!
"Sini kubantu keluarkan motor, kamu tampak bingung!" Lelaki yang sedari tadi ada di sampingku bersuara semilir angin. Dengan sigap, ia mengambil alih motorku, mengeluarkannya dari impitan motor-motor di parkiran gedung sialan itu. Tanpa sengaja dia menyentuh punggung tanganku dan seketika memori masa lalu buyar. Ah, dunia kiranya masih sudi berputar...
Aku parkir motorku tepat di bawah pohon beringin rindang. Parkiran motor yang penuh itu membuat aku dan motorku harus berdesak-desakan. Tapi sesungguhnya emosiku yang saat itu terdesak. Segumpal memori melesak menggedor jantung dan paru-paruku.
Aku harus menghadapinya... Jantungku mendetakkan irama teratur: nal nal nal.. jangan emosional!
Aku menjejakkan kaki di teras gedung. Pintu kaca yang diprogram otomatis sontak terbuka. Jantungku masih sama mendetakkan irama teratur: nal nal nal ... jadilah profesional!
Kurasakan wajahku memanas. Aku tahu tidak akan menemukan wajah lelaki itu di gedung itu. Tentu saja, karena tempatnya memang bukan di situ. Tapi gedung sialan itu mengingatkanku pada impian dan harapannya.
Yang kutemui siang tadi adalah seorang front officer merangkap operator telepon yang duduk dengan malas. Tanpa senyum dia menyapaku. Dari punggungnya yang selalu bersandar di kursi empuknya itu, dan kepala yang sedikit doyong dari badannya, aku tahu, dia malas menerimaku. Aku pun memasang tampang tak kalah malas. Tak ada basa-basi. Tak ada kata permisi. Aku ingin bergegas pergi.
Sampai di parkiran aku cuma bisa mengutuki diriku. Baru beberapa bulan, dan rasa itu masihlah bercokol di dadaku. Hunjaman pisau itu terlalu dalam. Meski sudah tercabut, bekas pisau menanggalkan luka yang masih basah. Saat itu juga aku berdoa semoga luka itu tidak menjadi borok di tubuhku!
"Sini kubantu keluarkan motor, kamu tampak bingung!" Lelaki yang sedari tadi ada di sampingku bersuara semilir angin. Dengan sigap, ia mengambil alih motorku, mengeluarkannya dari impitan motor-motor di parkiran gedung sialan itu. Tanpa sengaja dia menyentuh punggung tanganku dan seketika memori masa lalu buyar. Ah, dunia kiranya masih sudi berputar...
Labels: Celoteh