Friday, August 31, 2007

 

Ketempling

Di telingaku, kata ketempling sungguh lucu. Otak jawaku akan segera mengaitkannya dengan sesuatu yang kecil dan tipis seperti uang logam yang kalau jatuh ke lantai keramik bunyinya berdenting. Mengingatkan suara lonceng kecil yang di gendang telinga Jawaku berbunyi klining-klining.

Lain lagi dengan gemblong. Kata itu sungguh tidak terdengar merdu di telingaku. Kata itu berbunyi mirip gerbong, ompong, gembong, tong, dan apapun yang mengingatkanku pada sesuatu yang besar, kosong, suram dan sedikit ketidakberuntungan. Pendeknya membuat ulu hatiku mengkerut.

Nyatanya dua kata itu adalah sama. Ketempling atau gemblong adalah keripik khas asal Kuningan. Tentu saja aku memilih menggunakan kata ketempling ketimbang gemblong. Camilan ini terbuat dari singkong yang diparut dan dicetak bundar setipis uang logam. Sebelum digoreng, adonan ini dijemur dulu supaya kadar airnya hilang. Jadilah ketempling yang renyah.

Ketempling pertamaku kutemui di sebuah festival makanan tradisional di Bandung. Waktu itu, ibu penjaga stand yang ramah memperkenalkan beberapa keping ketempling padaku, gratis! Ibu penjaga stand bilang kalau di tempat asalnya ketempling sering dijadikan teman makan bakso atau pengganti kerupuk ketika makan. Tapi ternyata aku tidak perlu bakso atau nasi rames. Satu keping ketempling kurasai enak. Dua keping tambah enak. Mau coba sekeping lagi malu. Makanya, keluar dari stand itu aku membungkus seperempat ons ketempling. Ludes kumakan sendiri.

Dan ketempling selanjutnya kudapat dari seorang teman yang berbaik hati membagi ketemplingnya. Katanya, ketempling itu stok wajib di rumahnya. Maklum keluarganya sepertinya juragan ketempling dan emping. Aku diberinya beberapa ons ketempling dengan oncom garing di atasnya. Serta beberap ons lainnya ketempling polos dengan titik-titik daun seledri di permukaannya. (Hmm, tentang seledri ini aku tidak yakin, hanya menduga saja). Dan seperti ketempling pertamaku, seplastik besar ludes kusikat hingga remah-remahnya.

Sayang, niatanku untuk datang ke pabrik ketempling pupus. Seiring dengan dibatalkannya rencanaku untuk pergi ke daerah asal ketempling itu. Ya sudahlah...

Labels:


Tuesday, August 21, 2007

 

Nasi Tangkar untuk Yang Lapar

Tidak ada yang menarik dari warung itu. Warung itu cuma terdiri dari gerobag besar di tambah tiga buah bangku panjang yang ditaruh tiga sisinya. Tidak ada dinding. Satu-satunya penyekat yang memberi efek ruang tertutup di warung itu hanya kain bekas spanduk berwarna seadanya, entah putih atau kuning. Kain itu berfungsi pula sebagai papan nama yang menawarkan menu andalan warung: Nasi Tangkar.

Tapi, perut kami yang lapar setelah perjalanan melelahkan mengukur Jakarta raya seharian membawa kami ke warung nasi tangkar itu. Kami tahu tentang nasi itu dari seorang teman yang asal Karawang, tentu dengan cerita berbumbu: nasi itu sangat enak dengan kuah mirip gulai yang hangat rempah.

Awalnya, aku berharap berhenti di sebuah rumah makan layak. Ada wastafel buat mencuci tangan dengan sabun, dan ada toilet tempat aku membasuh muka yang lengket. Tapi jam sebelas malam di pusat kota Karawang, hanya tinggal jajaran warung gerobag di sekitar alun-alun yang bersetia menawarkan aneka makanan. Salah satunya ya, warung nasi tangkar itu.

Entah mana yang lebih dominan, rasa laparku atau kuah hangat berempah yang sedang kusantap. Potongan kikil bercampur lemak yang dimasak bersama ramuan kuah mirip gulai itu membuat lidah kami bergoyang-goyang. Disajikan hangat dalam mangkuk. Bersisian dengan sepiring nasi putih yang juga hangat bertabur bawang goreng.

"Ini seperti gulai tapi lebih encer. Rasanya jadi lebih ringan!" kata satu temanku sambil menuang sambal dan acar sembari mengaduk-aduk mangkuknya. Ia bolak balik menyeruput kuah di sendoknya sedikit- sedikit sambil lidahnya mencecap-cecap. Ia terlihat sangat sibuk menemukan campuran pas untuk acar dan sambal di mangkuknya.

"Ah, tidak tidak seperti gulai. Kuah gulai terlalu berat di lidah. Ini lebih segar. Apalagi kalau dimakan dengan emping seperti ini." kata temanku satu lagi yang meski matanya sudah setengah terpejam karena lelah, mulutnya masih komat kamit mengomentari nasi tangkar pertamanya.

Sementara satu lagi, temanku yang asal Karawang terlihat adem.

Sama sepertiku yang cuma bisa bilang, "Hmm... enak juga!" Dan Nasi Tangkarku pun tandas.

Labels:


Friday, August 17, 2007

 

Cokelat itu Akan Kumakan Sedikit Demi Sedikit

Sebuah pertemuan kecil. Ibarat memakan sepotong cokelat, aku lebih suka menggigitnya sedikit demi sedikit. Kubiarkan cokelat itu meleleh dengan sendirinya hingga tinggal cacahan kacang almon dan raisin di lidah. Saat itulah aku mulai mengunyah.

Dering telepon pada suatu sore seminggu lalu membawaku ke sebuah pertemuan kecil di Jalan Veteran. Pertemuan kecil sentimentil yang dipenuhi obrolan merayakan masa lalu. Pertemuan yang ternyata sudah direncanakan setahun lalu namun baru bisa dilakukan tahun ini. Syukurlah, rencana itu berjalan lancar.

Pusat perhatian kami malam itu ada pada Irul. Si abang satu ini pintar sekali menarik perhatian. Cara bertuturnya mirip seorang pengacara batak yang juga kesohor menjadi bintang sinteron: menggebu-gebu tanpa melewatkan setiap detil cerita. Potongan cerita pun sambung-menyambung keluar dari mulut kami. Dan, ingatan kami kembali pada masa 10 tahun silam. Tepat pada satu titik masa ketika cerita itu terangkai pertama kalinya.

Sekotak roti rasa kayu manis, empat batang cokelat, dan tiga botol besar air mineral menemani kami. Terus saja kami mengobrol hingga salah seorang dari kami merasa lapar tepat jam tiga pagi. Kami pun bubar. Aku memilih bergelung dalam selimut dan tidur.

Ternyata, cokelat kami masih ada. Kami memakannya lagi keesokan harinya, di rumah seorang teman di bilangan Ciputat, bersama dengan beberapa kerat daging panggang. Cerita masih bergulir, tertiup angin semilir di bawah teduhan pepohonan jati.

Cokelat itu tak habis kami makan. Sekeping kubawa pulang. Aku akan memakannya sedikit demi sedikit.

Life is like a box of chocolate, you never know what you're gonna get ... Bila dirasai, omongan ibunya Forrest Gump itu ada benarnya.

Labels:


Friday, August 03, 2007

 

Bilang, Kalau Jeruk Itu Menjadi Wortel!

Jam lima lewat beberapa menit ...

Matahari bulat berwarna oranye yang merayap turun. Matahari itu terlihat seperti buah jeruk segar yang bergelayut pada tangkai tak terlihat di rerimbunan awan berwarna putih sedikit kelabu.

"Lihat, matahari itu akan tertusuk antena menara!"

"Ke sini cepat, lihatlah Sang Juru Taman sedang beraksi!"

"Waduh, matahari itu akan tergelincir!"

Teman-temanku ribut. Mereka berkerumun di ambang jendela dengan kepala terjulur keluar. Tak mau ketinggalan setiap detik gerak tarian sang maha senja itu. Mereka pun sibuk, berharap bisa mengawetkan matahari sore itu dalam celah kamera.

Mendekati setengah enam ...

Matahari yang tergelincir kini benar-benar tersangkut di atap gedung. Tubuhnya yang sedikit tergores menara kini tidak lagi bulat jeruk. Langit pun meredup, tak lagi mengilat seperti rupa seng baru di toko besi. Menara, gedung, pohon, kini menjadi bayangan gelap berbentuk mulut menganga yang siap menelan matahari.

Teman-temanku pun bertambah ribut, seolah mereka belum pernah melihat itu sebelumnya. Padahal, sudah beberapa hari ini mereka sudah meributkan matahari sore di ujung sana. Matahari yang sama, yang selalu tertusuk di menara yang sama, dan kemudian tertelan mulut hitam raksasa yang sama.

Tolong, beritahu aku bila jeruk besar itu berubah menjadi wortel! Aku mau menjadikannya jus sehingga kalian tidak bisa lagi meributkannya.

Labels:


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.