Thursday, July 19, 2007

 

Cinta itu Berwarna Hijau Daun

Kalau bisa diwarnai, cinta pertama itu sewarna hijau daun. Segar beroma kulit kayu.

Ini cerita tentang sebuah taman asri nan sejuk. Dinaungi pepohonan rindang yang ukuran batangnya bisa lebih besar dari satu pelukan orang dewasa. Luasnya sekitar dua hektar, memanjang mengikuti alur sungai. Sungai yang sebetulnya lebih tepat disebut selokan karena lebarnya tak lebih dari dua meteran.

Lokasi taman ini hanya sepelemparan batu dari Gedung Sate. Beberapa meter dari tempatku tinggal. Taman yang hijau merimbun ini diapit Jalan Cisangkuy dan Cilaki. Jadilah oleh orang-orang taman ini disebut Taman Cilaki. Sebutan itu terus melekat meski papan nama besar di sudut taman ini menegaskan bahwa nama taman ini adalah Taman Lansia.

Bisa dibilang, inilah cinta pertamaku di kota ini. Dari pagi hingga sore, taman ini tidak pernah sepi. Ada saja yang datang untuk berolahraga atau sekadar berjumpa dengan teman sebaya. Taman ini memang gambaran sempurna tentang ruang publik kota yang ramah. Taman yang yang berarti juga ... teman.

Pertemanan itu bukan hanya milik orang muda. Bukan tanpa alasan mengapa taman ini harus menyandang nama Taman Lansia. Memang, banyak lansia yang menyambangi taman ini. Mereka pun bergerombol layaknya anak muda. Berceloteh riang, saling menyapa dan melambaikan tangan. Wajah mereka begitu gembira. Kegembiraan yang tertangkap dari betapa rutin dan rajinnya mereka datang ke taman ini. Berjalan memutari taman, berkali-kali. Entah mereka datang berapa kali dalam seminggu, yang jelas, mereka selalu ada ketika aku datang ke taman ini.

Ada seorang kakek yang menyita perhatianku. Perlahan sekali jalannya. Kakinya menjejak gemetaran, dan tangannya mengayun lamban. Si kakek itu tidak berjalan sendirian. Di sampingnya ada lagi kakek lain yang berjalan tidak kalah perlahannya. Tapi si kakek kedua ini terlihat berupaya menyemangati si kakek pertama supaya terus melangkah. Mereka berjalan beriringan, mengobrol entah sembari melangkah. Jadilah mereka berdua, meski berjalan tertatih, semangatnya untuk berjalan mengitari taman tidak surut.

Mereka, para lansia itu kupikir juga mencintai taman ini. Sama seperti mereka mencintai teman-teman sebaya mereka, seperti mereka mencintai kehidupan mereka. Berpeluh, melatih otot-otot yang mulai menua demi menikmati hidup yang beranjak senja.

Lusa aku akan datang lagi.. melihat cinta para lansia yang diteduhi pepohonan hijau muda ... dan menghirup aroma cinta hijau muda yang ditebarkan oleh wangi lembab kulit kayu. Kupikir aku pun bisa mencitai hidup ini seperti para lansia itu..

Labels:


Thursday, July 12, 2007

 

Warna Warni

Aku punya hari yang berwarna-warni. Kadang merah, ungu, atau abu-abu.

Tapi aku paling suka warna jingga, yang sedikit oranye, sedikit kuning. Perpaduan warna yang pas. Warna hariku jingga ketika hatiku sedikit ceria dalam balutan romantisme. Sama seperti menatap langit senja, warna langit itu akan meleleh dan memenuhi hatiku. Jadilah aku merasa bahwa hari itu berwarna jingga.

Bisa juga warna hariku menjadi merah seperti lidah api yang menjilati udara. Tumpukan kerjaan yang ditingkahi oleh ocehan gak penting dari ujung meja sebelah sana bisa membuat hariku menjadi merah.

Hariku pun bisa coklat, sewarna sekeping cokelat tobleron. Tapi sebetulnya aku tidak terlalu suka warna itu. Membingungkan. Penuh keragu-raguan. Aku tidak bisa memutuskan apakah warna itu membuat hatiku hangat seperti segelas susu cokelat ataukah justru meranggas seperti pohon Jati kering di musim kemarau?

Hariku pun terkadang juga hitam. Terlalu hitam sehingga aku pun tidak bisa merabai hatiku sendiri. Dan kadang kala aku sengaja mewarnai hariku itu dengan warna hitam supaya aku tidak perlu susah payah mengenali lagi sekelilingku. Warna hitam juga identik dengan kamar gelap yang akan mengantarkanku tidur. Tidur untuk sejenak melupakan hariku yang murung.

Tapi, ada yang membuat hariku lebih berwarna warni. Ya, aku merasa sangat kaya warna ketika mengingat senyum ibunda yang lembut dan canda sahabat yang hangat. Semua itu menghadiahiku spektrum warna yang tidak terbatas... Hingga kupikir aku perlu lebih banyak kosakata untuk menyebut warna-warna itu menjadi lebih spesifik, tidak sekadar mejikuhibiniu...

Terima kasih Tuhan atas warna-warni yang sudah Kau ciptakan untukku...

07/07/07

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.