Wednesday, June 20, 2007
Melompat
Masih ingat gimana semangatnya balapan lompat katak waktu kanak dulu? Atau, gimana groginya lompat harimau melompati teman sendiri. Atau, gimana hebohnya lompat tali? Ya, ya, lompat-melompat sempat aku identikkan dengan tawa khas dunia anak-anak.
Tapi urusan lompat-melompat ternyata bukan cuma urusan anak-anak yang bertumbuh kembang sehat. Lompat-melompat bisa jadi membahayakan. Ini bukan tentang resiko cedera tulang karena melompat-lompat. Tapi ini tentang ambisi beresiko untuk melompat sejauh-jauhnya.
Lompat-melompat yang penuh resiko ini ada di Semenanjung Muria, sebuah tanah menjorok ke luat di ujung utara Jepara sana. Di wilayah ini sedang digagas satu lompatan besar yang bertajuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Seorang pejabat daerah bilang, sudah saatnya kita punya satu lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Jaman memang sudah sampai pada babak perang nuklir. Nuklir dipakai untuk membangkitkan listrik sampai membangkitkan perang. Negara berkembang berlomba-lomba membangun reaktor nuklir supaya bisa dianggap sejajar dengan negara adikuasa. Pendeknya, PLTN seolah menjadi satu-satunya kesempatan untuk melompat, membuat bangsa kita mendadak berdaya dan berjaya.
Tentu saja, keinginan melompat itu tidak serta merta disetujui. Banyak orang takut kepleset seperti di lompatan Chernobyl 21 tahun lalu. Apalagi mengingat kebiasaan kita yang kerap teledor memelihara WC umum di terminal. Reaktor nuklir memang tidak sama dengan WC umum. Tapi bagi sebagian orang, perumpaan itu mengena. Merawat WC umum saja nggak becus bagaimana mau merawat reaktor nuklir?
Yah, PLTN terlanjur terlihat seperti lompatan besar tanpa persiapan. Berdalih memenuhi kebutuhan listrik dengan cara cepat. Alih-alih mengikuti Jepang, Korea, Perancis, atau Iran, ditambah sekelumit itung-itungan, hasilnya satu rancangan PLTN yang akan menyuplai tak sampai dua persen kebutuhan energi listrik nasional pada tahun 2025. Iya, dua persen!
Aku jadi ingat satu kalimat bijak yang kira-kira bunyinya begini, satu langkah kecil untuk lompatan besar. Pertanyaannya, kapan kita memulai langkah yang kecil itu dengan sungguh-sungguh?
Tapi urusan lompat-melompat ternyata bukan cuma urusan anak-anak yang bertumbuh kembang sehat. Lompat-melompat bisa jadi membahayakan. Ini bukan tentang resiko cedera tulang karena melompat-lompat. Tapi ini tentang ambisi beresiko untuk melompat sejauh-jauhnya.
Lompat-melompat yang penuh resiko ini ada di Semenanjung Muria, sebuah tanah menjorok ke luat di ujung utara Jepara sana. Di wilayah ini sedang digagas satu lompatan besar yang bertajuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Seorang pejabat daerah bilang, sudah saatnya kita punya satu lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Jaman memang sudah sampai pada babak perang nuklir. Nuklir dipakai untuk membangkitkan listrik sampai membangkitkan perang. Negara berkembang berlomba-lomba membangun reaktor nuklir supaya bisa dianggap sejajar dengan negara adikuasa. Pendeknya, PLTN seolah menjadi satu-satunya kesempatan untuk melompat, membuat bangsa kita mendadak berdaya dan berjaya.
Tentu saja, keinginan melompat itu tidak serta merta disetujui. Banyak orang takut kepleset seperti di lompatan Chernobyl 21 tahun lalu. Apalagi mengingat kebiasaan kita yang kerap teledor memelihara WC umum di terminal. Reaktor nuklir memang tidak sama dengan WC umum. Tapi bagi sebagian orang, perumpaan itu mengena. Merawat WC umum saja nggak becus bagaimana mau merawat reaktor nuklir?
Yah, PLTN terlanjur terlihat seperti lompatan besar tanpa persiapan. Berdalih memenuhi kebutuhan listrik dengan cara cepat. Alih-alih mengikuti Jepang, Korea, Perancis, atau Iran, ditambah sekelumit itung-itungan, hasilnya satu rancangan PLTN yang akan menyuplai tak sampai dua persen kebutuhan energi listrik nasional pada tahun 2025. Iya, dua persen!
Aku jadi ingat satu kalimat bijak yang kira-kira bunyinya begini, satu langkah kecil untuk lompatan besar. Pertanyaannya, kapan kita memulai langkah yang kecil itu dengan sungguh-sungguh?
Labels: Celoteh
Monday, June 18, 2007
Lik Man dan Lik Min
Bukan kembar bukan pula sodara apalagi pak likku. Tapi nama mereka adalah jaminan mutu bagi sebagian pecinta malam di Yogya. Angkringan Lik Man dan Angkringan Lik Min, begitu orang Yogya menyebut angkringan milik mereka. Angkringan yang selalu ramah, yang bikin orang betah nongkrong berlama-lama.
Angkringan Lik Man tempatnya persis di sebelah utara gerbang utama Stasiun Tugu. Angkringan ini merupakan salah satu angkringan legendaris di kota ini. Menurut cerita yang beredar, angrkingan Lik Man ini sudah ada di tahun 1970-an. Konon, yang bikin angkringan ini terkenal adalah kopi joss, kopi pekat dengan sepotong arang di dalamnya. Nongkrong di sini, berarti harus rela duduk sembari menghirup asap knalpot kendaraan yang lewat di depanya.
Beda lagi dengan Lik Min. Angkringan miliknya ada di Bugisan yang kalo dari rumahku amit-amit jauhnya! Persisnya di selatan sebuah sekolah menengah seni yang aku lupa nama resminya. Beda dengan angkringan yang biasanya memakai gerobak, angkringan ini bertempat di bangunan semi permanen. Makanannya pun dipajang menarik di etalase. Satu lagi yang mencolok. Kalau di angkringan lain yang diandalkan adalah sego kucing dalam bungkus kecil-kecil seporsi ukuran perut kucing, nasi di angkringan Lik Min dijual hangat dalam majic jar. Tamu tinggal ambil dengan porsi yang dimaui. Seukuran porsi perut kuda nil juga nggak apa-apa.
Aku bukan pengemar makanan di angkringan. Dan bukan juga pengunjung setia angkringan. Tapi aku selalu menikmati suasana di angkringan yang sesekali kunikmati bersama teman-temanku. Kami datang untuk duduk berlama-lama memperbincangkan sesuatu yang nggak penting.
Tapi justru dari yang nggak penting itulah angkringan menjadi lekat dalam ingatan. Ingatan sederhana tentang kebahagiaan sederhana. Berbagi cerita dan berbagi mimpi, apa yang lebih membahagiakan dari itu semua?
Dan satu lagi, berlama-lama di angkringan berarti berlama-lama menikmati malam. Malam di Yogya yang selalu lebih indah ketimbang siang. Makanya kemarin ketika pulang, ajakan seorang teman untuk nongkrong di angkringan Lik Min segera kusambut hangat. Sehangat teh poci dan wedang jahe yang menemani kami.
Angkringan Lik Man tempatnya persis di sebelah utara gerbang utama Stasiun Tugu. Angkringan ini merupakan salah satu angkringan legendaris di kota ini. Menurut cerita yang beredar, angrkingan Lik Man ini sudah ada di tahun 1970-an. Konon, yang bikin angkringan ini terkenal adalah kopi joss, kopi pekat dengan sepotong arang di dalamnya. Nongkrong di sini, berarti harus rela duduk sembari menghirup asap knalpot kendaraan yang lewat di depanya.
Beda lagi dengan Lik Min. Angkringan miliknya ada di Bugisan yang kalo dari rumahku amit-amit jauhnya! Persisnya di selatan sebuah sekolah menengah seni yang aku lupa nama resminya. Beda dengan angkringan yang biasanya memakai gerobak, angkringan ini bertempat di bangunan semi permanen. Makanannya pun dipajang menarik di etalase. Satu lagi yang mencolok. Kalau di angkringan lain yang diandalkan adalah sego kucing dalam bungkus kecil-kecil seporsi ukuran perut kucing, nasi di angkringan Lik Min dijual hangat dalam majic jar. Tamu tinggal ambil dengan porsi yang dimaui. Seukuran porsi perut kuda nil juga nggak apa-apa.
Aku bukan pengemar makanan di angkringan. Dan bukan juga pengunjung setia angkringan. Tapi aku selalu menikmati suasana di angkringan yang sesekali kunikmati bersama teman-temanku. Kami datang untuk duduk berlama-lama memperbincangkan sesuatu yang nggak penting.
Tapi justru dari yang nggak penting itulah angkringan menjadi lekat dalam ingatan. Ingatan sederhana tentang kebahagiaan sederhana. Berbagi cerita dan berbagi mimpi, apa yang lebih membahagiakan dari itu semua?
Dan satu lagi, berlama-lama di angkringan berarti berlama-lama menikmati malam. Malam di Yogya yang selalu lebih indah ketimbang siang. Makanya kemarin ketika pulang, ajakan seorang teman untuk nongkrong di angkringan Lik Min segera kusambut hangat. Sehangat teh poci dan wedang jahe yang menemani kami.
Labels: Kudap