Tuesday, April 17, 2007

 

Pantai dengan Senja Abu-abu

Tiga malam ini tidurku tidaklah nyenyak. Sepertinya detik jam weker di kamarku menjadi terlalu keras. Berdetak-detak memenuhi kepalaku. Malam yang biasanya hening pun menjadi gaduh. Bolak-balik kupicingkan mata namun selalu gagal.

Pandanganku justru mengukur langit-langit. Sementara pikiranku melayang ke langit betulan di luar sana.

Sebuah pemandangan yang asing terhampar di sekelilingku. Meja, televisi, kursi, dan lemari di kamarku lenyap. Bahkan sapu lidi yang kugantung di atas cermin pun sudah tidak lagi di tempatnya. Tiba-tiba aku sudah di dermaga pantai yang entah. Menghadap cakrawala yang melengkung lengkap dengan matahari yang tergantung malas di atasnya.

Belum sempat kunikmati keherananku, kulihat puluhan burung dengan sayap terentang di langit, rumpun nyiur menaungi pasir, kapal berlayar terkembang di laut, dan buih menggumpal di pucuk-pucuk ombak. Tetapi semuanya tidak bergerak. Seolah diam dalam tapanya.

Penasaran, kumasukkan kakiku ke air. Tidak kurasakan apapun meski kakiku kugerak-gerakkan. Bahkan, air pun bergeming tanpa riak. Kucelupkan tanganku dan kukulum ujung telunjukku. Pun tak kurasai garam di situ.

Baru kusadari semuanya bak patung lilin yang indah namun mati. Tiba-tiba di sudut mataku kulihat ada yang bergerak. Sekelebat bayangan lebar yang menutupi langit. Bergerak perlahan seperti ibu yang sedang menyelimuti bayinya yang terlelap.

Begitu perlahan hingga terlambat kusadari itu bukan bayangan. Pantai sudah menghitam. Tak lagi berwarna jingga tetapi menjadi gradasi abu-abu. Mulai dari langit yang berwarna paling terang hingga laut yang berwarna paling gelap. Begitu gelap, hingga matahari yang telah serupa bundaran hitam nyaris tenggelam ditelannya.

Dan aku pun berteriak, ”Ini cuma mimpi! Ini cuma mimpi!” Tapi tampaknya hanya aku yang bisa mendengarnya ...

Friday, April 06, 2007

 

Pertanyaan Kita

Mungkin kita berdua bertanya
Apa yang salah dengan kita
Tak semua orang di dunia
Dengan kebahagiaan penuh seperti kita
Tertawa bersama
Berbalut keceriaan pagi bersenyum matahari
Berbagi senja berdua
Menyambut lembut malam yang menghadirkan bulan

Tapi tidak malam itu
Kita terdiam
Menangisi hari celaka
Yang melemparkan kita dalam keputusasaan
Kamu di ujung cakrawala sana
Menggenggam obsesi hidup yang menyala
Sementara aku di tengah pusaran kata
Yang kadang kehilangan makna
Bersama waktu yang berdetak menggilas
Bersama sendu yang memutar lagu lama tentang kesepian

Tapi aku menunggumu
Ya, menunggumu

Bandung, 6/4/2007

Labels:


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.