Thursday, March 22, 2007
Nasi Goreng Cinta ala Aki
Makan nasi goreng dan merasai cinta. Ini bukan slogan sebuah restoran bintang lima yang romantis, tapi cukup dengan berdiri di pertigaan dekat kosku jam setengah sebelas malam. Aki dan gerobagnya yang besar biasanya lewat. Di situlah kita bisa makan dan merasai cinta.
Orang-orang memanggilnya Aki. Entah karena untuk mengakrabkan diri ataukah memang karena lelaki itu sudah pantas menyandang sebutan Aki.
Cara Aki berjalan tak lagi tegak. Sedikit terseok dengan kaki kanan yang agak diseret. Telinganya pun tidak lagi tajam. Orang harus mengulangi sedikitnya tiga kali ucapan dengan volume suara sedang. Dan bila diperhatikan, pipinya agak mengempis karena beberapa gigi penyangga di balik itu sepertinya sudah tanggal. Pendeknya, pembawaan si Aki tidak bisa menyembunyikan usianya.
Namun begitu, Aki terlihat belum terlalu renta untuk menembus malam Bandung yang lembab dan dingin. Meski pelan, ia tekun mendorong gerobagnya menyusuri gang demi gang. Sejak jam lima sore, ia sudah mengukur jalan mulai dari Kiaracondong sampai seputaran kosku. Lokasinya kalau dibandingkan itu seperti dari Jalan Wates kilometer lima sampai ke Alun-alun Yogya.
Dalam gerobagnya itu tersimpan bumbu dan bahan-bahan racikan untuk nasi goreng, mie rebus, dan mie goreng. Tapi tampaknya, dari selera konsumen para tetangga kosku, Aki adalah spesialis pembuat nasi goreng. Nasi gorengnya sederhana, dengan ayam sedikit, dan olahan bumbu bawang merica yang tajam beraroma menggoda ala kaki lima. Taburan bawang goreng dan irisan cabe di atasnya bikin lidah kangen. Belum lagi aroma asap dari tungku hangat si Aki, bikin nasi gorengnya terasa lebih menggugah rasa daripada nasi goreng ala restoran.
Itulah. Aki, gerobag sebesar tiga kali badannya, nasi goreng sedap, yang larut di dinginnya malam. Dalam benakku, itu bukan kata yang selaras. Menimbulkan pertanyaan dan memunculkan dugaan. Akhirnya kutanyai Aki.
Pekerjaan itu sudah dilakoninya sejak tahun 1950, sejak pertama kali dia pindah ke Bandung. Aki ternyata orang Jawa dari Semarang. (Alasan kepindahannya ke Bandung aku belum sempat tanya). Kini, Aki yang beranak lima itu sudah punya buyut lima. Dan jalan hidupnya masih tetap bergulir mengikuti roda gerobag nasi gorengnya itu.
Ketika kutanya mengapa ia masih mau berjualan nasi goreng malam-malam padahal ia sudah tua dan bahkan anak-anaknya telah dewasa, jawabannya sungguh di luar perkiraanku. Tidak ada bumbu kemiskinan, tidak ada bumbu keterpaksaan di situ. Pendek, jawaban si Aki. ”Ini tanggung jawab Aki neng, buat istri saya...”
Mari, kita tunggu Aki nanti malam. Makan nasi goreng dan merasai cinta Aki untuk Nini.
Labels: Kudap
Wednesday, March 14, 2007
Mister Sister Master Angka
Dalam ilmu otak atik gathuk yang entah pencetusnya, tanggal kejadian musibah beruntun itu terpola. Ada yang tanggalnya sama dengan jenis pesawatnya. Sementara lainnya berpola angka kembar antara tanggal dan bulannya.
Ini bukan pertama kalinya para ahli otak atik gathuk beraksi. Analisis waton gathuk pernah diluncurkan beberapa tahun lalu ketika teror gencar ditebar.
Masih ingat kejadian ambruknya menara World Trade Center lantaran ditubruk pesawat komersil? Iya, yang seperti adegan film Holiwood itu. Kejadiannya tanggal 11/9 (11 September 2001). Adegan itu pun dianggap ada sekuelnya yakni Bom Bali I yang terjadi 12/10 (12 Oktober 2002). Dua tangal kejadian itu dihubung-hubungkan, menjadi serial, sambung menyambung.
Mungkin bukan misteri angka yang menarik diperbincangkan. Lebih menarik, siapa pencetus dan penyebar informasi alias si mister ato sister master angka itu. Begitu mengena, sampai nggak sedikit orang yang ikutan membahas, ”kebetulan kecil atau keisengan besar?”
Aku lebih memilih yang kedua. Kupikir, betapa pencetus otak atik angka biar gathuk itu perlu kejelian. Punya kepekaan terhadap angka. Mereka menikmati angka hingga memandangi, merenungi, memimpikan, memikirkan, hingga mencetuskan bahwa suatu angka itu menarik diulik. Kepekaan itulah yang aku tidak punya karena aku bermasalah dengan angka.
Ciri-ciri orang yang bermasalah dengan angka melekat padaku, mulai dari kesulitan menghafal nomor telepon, mengingat nomor alamat, menghitung angka di kolom-kolom excel, sampai harus memeras otak cukup keras untuk melekatkan nomor pin telepon atau rekening di otakku.
Tapi, tunggu dulu. Angka di sini tentu saja tidak sama dengan uang. Alasannya, meski uang itu merupakan lembaran kertas yang berangka, terlekat nilai tukar di situ. Itu sebabnya aku tidak kesulitan mengingat jumlah uang di dompetku dan tepat memperkirakan apa yang bisa kudapat dengan menukarkan uang itu. Lain cerita bila aku harus mengingat berapa nominal di buku kas yang aku buat. (Makanya aku tidak berprofesi sebagai akuntan atau teller bank :-P)
Labels: Celoteh
Thursday, March 01, 2007
Si Bungsu yang Merepotkan
Keempatnya adalah gigi bungsuku. Gigi bungsu ini memang gigi yang paling akhir tumbuhnya. Biasanya mulai merobek gusi ketika si empunya gusi berumur 18 – 20 tahun. Ada yang malu-mau, muncul sedikit demi sedikit tapi bikin sakit. Ada juga yang begitu percaya diri mengetuk-ngetuk gusi dan menerabas begitu saja. Sakit yang ditimbulkan tetap sama, tapi tidak berlama-lama.
Konon gigi bungsu ini dipertanyakan fungsinya di gigi manusia modern. Mereka jadi tersisih karena evolusi. Banyak ahli berpendapat bahwa perubahan jenis makanan pada manusia modern dari semula mentah dan liat menjadi dimasak sehingga lebih lunak membuatnya tidak lagi berfungsi seperti dulu. Kehadiran gigi bungsu yang diperkirakan dapat membantu bila ada geraham lain yang tanggal menjadi tidak berguna, malah pada kebanyakan orang menjadi masalah.
Nah sepertinya inilah yang mengispirasi Bung Meggy Z buat menyinggung masalah gigi. Intinya Cuma satu. Sakit! Karena urusan gigi berarti menyangkut urusan hati. Sakit gigi bisa bikin orang uring-uringan, bad mood dan beringas apa saja mau dilibas.
Karena itulah, sebelum aku merasakan sakit, aku pergi ke dokter gigi. Aku ceritakan duduk masalahnya pada bu dokter, bahwa aku punya dua lubang di gigi bungsu kanan kiri di gusi bawah. Ternyata setelah diperiksa, bu dokter yang cantik itu bilang bahwa lubangnya tidak cuma pada si bungsu bawah, tapi ada dua lagi pada si bungsu atas.
Jadi, para bungsu inilah yang sekarang merongrongku. Baru sekitar empat tahun menjalankan tugas kok sudah bolong. Padahal, setiap malam sebelum tidur mereka selalu aku gosok sesuai anjuran dokter.
Sekarang dua di bawah sudah dibungkam. Dan dua lainnya di atas akan kubungkam juga ketika aku punya waktu dan energi cukup.
Labels: Sehat