Monday, February 26, 2007
Sabar di Kios Foto Copy
Kalau orang ada orang yang bisa sabar di tengah hiruk pikuk kota besar, salah satunya pasti abang tukang fotocopy langgananku. Kesabarannya melayani pelanggan sepertiku sungguh mengagumkan.
Kusapa dia dengan sebutan "abang" karena aku tahu dia bukan orang Sunda apalagi orang Jawa. Logat dan beberapa kata yang diucapkannya menunjukkan daerah asalnya, Padang. Dan dugaanku makin kuat karena di sebelah foto kopi itu ada warung makan Padang. Dari beberapa kali kunjunganku, si abang tukang fotocopy ini sering terlihat dalam pembicaraan hangat dengan si empunya warung. Kesimpulanku, mereka berkerabat.
Kiosnya yang selalu ramai, mulai dengan berisiknya anak-anak berseragam putih abu-abu sampai kecerewetan orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa diidentifikasi dari bajunya. Aku contohnya, selalu punya segudang permintaan yang kusimpan dalam tas kumalku.
"Bang, copy-kan ini ya, sekali. (buku) Asilnya aku ambil dua jam lagi!" atau
"Copy-in yang ini sekali. Yang sepuluh buku lainnya gak usah di-copy, dijilid aja pakai mika!" Sering juga, "Tiga buku copy-kan ya! Jilid soft cover, besok jadi ya!"
Dan bla, bla, bla lainnya. Semua bernada memerintah. Sering kali tanpa ucapan "tolong" dan "terima kasih".
Namun, ia tetap terlihat tenang. Parasnya yang putih membuat wajahnya selalu tampak selalu segar meski tanpa seutas senyum pun. Rambutnya klimis tersisir rapi. Kupikir itu karena pengaruh minyak yang membuat rambutnya selalu terkesan basah. Tanpa ekspresi, dia hanya akan bilang "Ndak bisa, jadinya dua hari lagi!" atau tanpa berkata apa pun dia mengangguk ketika permintaan pelanggan bisa disanggupinya.
Biasanya, konsumennya pun adem. Seperti anak balita yang sudah dijanjikan penganan enak oleh ibunya. Semula gelisah kemudian tenang. Cesss... seperti kompor panas kena tetesan air dari pantat panci.
Agaknya si abang dan kosumen sudah saling bisa menerima pesan. Komunikasi yang sangkil dan mangkus. Kalau Hermawan Kertajaya melihat si abang, kira-kira layak juga abang disebut marketer yang baik. Tanpa perlu ucapan "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tapi kios si abang tetap ramai. Dan meski beberapa di antara konsumen cerewet banyak permintaan dan banyak keluhan, tetap saja mereka datang dan datang lagi. Tulisan Family yang dipasang besar-besar di lisplang kiosnya sepertinya sudah jadi jaminan mutu.
Mungkin dia tidak perlu buku-buku how to, kiat sukses berbisnis, atau apalah itu yang berderet-deret di rak toko buku. Dia di belakang mesin fotocopy-nya sepertinya punya kiat sendiri. Tak peduli bunyi mesinnya berdecit-decit monoton itu. Sabar.
Pekerjaan yang sama berulang kali berhari-hari tidak mengubah gurat wajahnya. Permintaan-permintan yang membombardir tidak mengubah intonasi suaranya. Dead line pelanggan yang serba terburu-buru dan memburu tidak membuatnya terganggu. Sabar.
Rupanya sabar tumbuh subur di kios fotocopy si abang. Aku sedang coba menanam satu bijinya di kamarku.
Kusapa dia dengan sebutan "abang" karena aku tahu dia bukan orang Sunda apalagi orang Jawa. Logat dan beberapa kata yang diucapkannya menunjukkan daerah asalnya, Padang. Dan dugaanku makin kuat karena di sebelah foto kopi itu ada warung makan Padang. Dari beberapa kali kunjunganku, si abang tukang fotocopy ini sering terlihat dalam pembicaraan hangat dengan si empunya warung. Kesimpulanku, mereka berkerabat.
Kiosnya yang selalu ramai, mulai dengan berisiknya anak-anak berseragam putih abu-abu sampai kecerewetan orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa diidentifikasi dari bajunya. Aku contohnya, selalu punya segudang permintaan yang kusimpan dalam tas kumalku.
"Bang, copy-kan ini ya, sekali. (buku) Asilnya aku ambil dua jam lagi!" atau
"Copy-in yang ini sekali. Yang sepuluh buku lainnya gak usah di-copy, dijilid aja pakai mika!" Sering juga, "Tiga buku copy-kan ya! Jilid soft cover, besok jadi ya!"
Dan bla, bla, bla lainnya. Semua bernada memerintah. Sering kali tanpa ucapan "tolong" dan "terima kasih".
Namun, ia tetap terlihat tenang. Parasnya yang putih membuat wajahnya selalu tampak selalu segar meski tanpa seutas senyum pun. Rambutnya klimis tersisir rapi. Kupikir itu karena pengaruh minyak yang membuat rambutnya selalu terkesan basah. Tanpa ekspresi, dia hanya akan bilang "Ndak bisa, jadinya dua hari lagi!" atau tanpa berkata apa pun dia mengangguk ketika permintaan pelanggan bisa disanggupinya.
Biasanya, konsumennya pun adem. Seperti anak balita yang sudah dijanjikan penganan enak oleh ibunya. Semula gelisah kemudian tenang. Cesss... seperti kompor panas kena tetesan air dari pantat panci.
Agaknya si abang dan kosumen sudah saling bisa menerima pesan. Komunikasi yang sangkil dan mangkus. Kalau Hermawan Kertajaya melihat si abang, kira-kira layak juga abang disebut marketer yang baik. Tanpa perlu ucapan "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tapi kios si abang tetap ramai. Dan meski beberapa di antara konsumen cerewet banyak permintaan dan banyak keluhan, tetap saja mereka datang dan datang lagi. Tulisan Family yang dipasang besar-besar di lisplang kiosnya sepertinya sudah jadi jaminan mutu.
Mungkin dia tidak perlu buku-buku how to, kiat sukses berbisnis, atau apalah itu yang berderet-deret di rak toko buku. Dia di belakang mesin fotocopy-nya sepertinya punya kiat sendiri. Tak peduli bunyi mesinnya berdecit-decit monoton itu. Sabar.
Pekerjaan yang sama berulang kali berhari-hari tidak mengubah gurat wajahnya. Permintaan-permintan yang membombardir tidak mengubah intonasi suaranya. Dead line pelanggan yang serba terburu-buru dan memburu tidak membuatnya terganggu. Sabar.
Rupanya sabar tumbuh subur di kios fotocopy si abang. Aku sedang coba menanam satu bijinya di kamarku.
Labels: Celoteh
Wednesday, February 21, 2007
Karcis Parkir
Karcis parkir motornya tak juga ia temukan. Sudah sekitar lima belas menit lamanya Arin berdiri di depan pintu toko buku itu. Tangannya sibuk merogohi saku celananya. Berganti-ganti, dari saku yang depan ke saku belakang, lalu dari saku belakang kembali ke saku depan. Karcis itu belum juga ditemukan.
Arin mulai kesal. Wajahnya berkerut-kerut dan alis matanya bertaut. Mulutnya pun berkomat kamit merapal gumaman.
“Sialan! Sialan! Sialan!”
Hujan pun datang. Tampias air hujan di emperan toko memerciki wajahnya kini terlihat lelah. Arin menghela nafas, ia lemparkan pandangan matanya ke langit. Dipejamkannya matanya sebentar.
Sebetulnya ini bukan kali pertama ia teledor. Ia pernah kehilangan karcis parkirnya di toko buku itu juga. Waktu itu pun hujan. Ia sampai bertengkar dengan mbak penjaga loket yang mendendanya lima belas ribu karena kecerobohannya.
“Mahal amat?!” umpatnya waktu itu.
Ia hanya mau membayar sepuluh ribu saja. Pertengkaran itu pun berakhir ketika motor-motor di belakang Arin mulai membunyikan klakson.
“Oiii, lama amat siih!”
Dan mbak penjaga loket pun mengalah.
Arin kembali mengingat-ingat di mana ia selipkan karcis parkir sialan itu. Kesal hatinya karena kembali mengulang kesalahan yang sama di tempat yang sama pula. Ia pun membuka tasnya. Diperiksanya saku kecil di bagian depan. Dikeluarkannya dua buah buku agenda dari saku itu supaya tangannya lebih leluasa mengaduk-aduk saku itu. Nihil.
Arin kembali menghela nafas. Ia tahu, seperti yang sudah pernah dialaminya, karcis itu tidak akan pernah ia temukan. Arin berhenti mencari karcis sialan itu. Ia pun mengeluarkan dompet dan mengambil selembar sepuluh ribuan. Diselipkannya uang itu di saku celananya. Kini ia menunggu hujan sedikit reda.
Arin mulai kesal. Wajahnya berkerut-kerut dan alis matanya bertaut. Mulutnya pun berkomat kamit merapal gumaman.
“Sialan! Sialan! Sialan!”
Hujan pun datang. Tampias air hujan di emperan toko memerciki wajahnya kini terlihat lelah. Arin menghela nafas, ia lemparkan pandangan matanya ke langit. Dipejamkannya matanya sebentar.
Sebetulnya ini bukan kali pertama ia teledor. Ia pernah kehilangan karcis parkirnya di toko buku itu juga. Waktu itu pun hujan. Ia sampai bertengkar dengan mbak penjaga loket yang mendendanya lima belas ribu karena kecerobohannya.
“Mahal amat?!” umpatnya waktu itu.
Ia hanya mau membayar sepuluh ribu saja. Pertengkaran itu pun berakhir ketika motor-motor di belakang Arin mulai membunyikan klakson.
“Oiii, lama amat siih!”
Dan mbak penjaga loket pun mengalah.
Arin kembali mengingat-ingat di mana ia selipkan karcis parkir sialan itu. Kesal hatinya karena kembali mengulang kesalahan yang sama di tempat yang sama pula. Ia pun membuka tasnya. Diperiksanya saku kecil di bagian depan. Dikeluarkannya dua buah buku agenda dari saku itu supaya tangannya lebih leluasa mengaduk-aduk saku itu. Nihil.
Arin kembali menghela nafas. Ia tahu, seperti yang sudah pernah dialaminya, karcis itu tidak akan pernah ia temukan. Arin berhenti mencari karcis sialan itu. Ia pun mengeluarkan dompet dan mengambil selembar sepuluh ribuan. Diselipkannya uang itu di saku celananya. Kini ia menunggu hujan sedikit reda.
Labels: Pernik
Friday, February 16, 2007
Just The Way You Are
Ringan tapi ceria
Sederhana namun penuh harapan
Semoga selalu mewarnai cerita di kemudian hari
Mari kita warnai senja dengan warna yang kita suka
Merah hijau atau mungkin abu-abu
Tidak apalah, itu warna kita
I want you just the way you are ....
Mari bernyanyi bersamaku
16/02/2007
-------
Don't go changing, to try and please me
You never let me down before
Don't imagine you're too familiar
And I don't see you anymore
I wouldn't leave you in times of trouble
We never could have come this far
I took the good times, I'll take the bad times
I'll take you just the way you are
Don't go trying some new fashion
Don't change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care
I don't want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are.
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
What will it take 'till you believe in me
The way that I believe in you.
I said I love you, and that's forever
And this I promise from the heart
I could not love you any better
I love you just the way you are.
(Billy Joel)
Sederhana namun penuh harapan
Semoga selalu mewarnai cerita di kemudian hari
Mari kita warnai senja dengan warna yang kita suka
Merah hijau atau mungkin abu-abu
Tidak apalah, itu warna kita
I want you just the way you are ....
Mari bernyanyi bersamaku
16/02/2007
-------
Don't go changing, to try and please me
You never let me down before
Don't imagine you're too familiar
And I don't see you anymore
I wouldn't leave you in times of trouble
We never could have come this far
I took the good times, I'll take the bad times
I'll take you just the way you are
Don't go trying some new fashion
Don't change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care
I don't want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are.
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
What will it take 'till you believe in me
The way that I believe in you.
I said I love you, and that's forever
And this I promise from the heart
I could not love you any better
I love you just the way you are.
(Billy Joel)
Labels: Laras
Sunday, February 11, 2007
Cimol... mol mol
Tadi pagi aku jalan-jalan ke pasar kaget di Gasibu. Mungkin ada delapan bulanan aku gak jalan-jalan ke pasar ini. Padahal, jaraknya dari kos hanya sekitar 500 meteran.
Pertama kali datang ke Bandung. Pasar kaget di Gasibu ini memang bener-bener mengagetkan. Lokasinya di pusat kota. Di depan gubernuran. Setiap minggu pagi dipastikan kawasan ini macet. Yang datang jangan ditanya. Mulai dari nini, aki, anak balita, bayi, ibu hamil, om-om, orang pacaran, ada semuanya. Pendeknya tempat ini penuh padet. Sejauh mata memandang yang diliat cuma idung orang ketemu idung orang lainnya.
Namanya juga pasar, pasti ada yang digelar. Gelarannya panjang bermeter-meter. Sagala aya, mulai dari peniti, gantungan gordyn, jepit rambut, tutup galon, perabotan plastik, karpet, sepatu, maenan anak, lumpia basah, susu kedelai, sampe baju jablai (= ini kosakata baru yang kudapat pagi ini. Ini baju model babydoll yang bermotif ala 70an. Liat aja artis-artis sekarang, pasti padha pake baju ini) . Tapi yang selalu menarik minatku cuma satu, Cimol....
Sumpah ni makanan sebenernya gak enak. Masih jadi pertanyaan besar, kenapa kalo lama gak makan ini, pasti lidahku nagih. Aci yang digoreng. Pastilah udah kebayang rasanya. Kenyal dan gak akan berasa seperti pizza!
Tapi ini ini memang makanan nyentrik yang menarik. Bukan karena rasanya, tapi mungkin karena sensasi mengunyah kenyal-kenyal itu. Nama Cimol saja sudah aneh. Apakah itu berarti aci yang dicemol (= dicomot seukuran sendok makan) lalu digoreng. Ato aci yang enak digemol (= kata urang Sunda ini artinya dikulum). Ato juga aci yang digoreng berukuran smol (= baca small). Entahlah.
Dan kalau diusut pun gak jelas makanan ini berasal dari siapa dan di mana. Menurut catatan koran lokal sini, tahun 2004 tiba-tiba saja makanan ini bermunculan berbagai lokasi pusat kaki lima di Bandung. Konon, makanan ini berasal dari Tasikmalaya di tahun 1990-an. Tapi kayaknya, Bandung memang kota yang ditakdirkan memopulerkan berbagai jenis makanan, termasuk Cimol.
Bumbunya juga tidak terlalu enak. Asin ala vetsin. Aku dan Nanik tadi sempat membahas bahwa rasa keju yang jadi bumbu cimolku pagi ini sebenarnya adalah tepung yang dicampur bubuk cabai. Tapi sudahlah. Sebulan lagi sepertinya aku bakalan nyari-nyari Cimol lagi. Sekali lagi bukan karena enak, tapi lebih karena indera pencecapku kangen rasanya yang aneh itu....
Pertama kali datang ke Bandung. Pasar kaget di Gasibu ini memang bener-bener mengagetkan. Lokasinya di pusat kota. Di depan gubernuran. Setiap minggu pagi dipastikan kawasan ini macet. Yang datang jangan ditanya. Mulai dari nini, aki, anak balita, bayi, ibu hamil, om-om, orang pacaran, ada semuanya. Pendeknya tempat ini penuh padet. Sejauh mata memandang yang diliat cuma idung orang ketemu idung orang lainnya.
Namanya juga pasar, pasti ada yang digelar. Gelarannya panjang bermeter-meter. Sagala aya, mulai dari peniti, gantungan gordyn, jepit rambut, tutup galon, perabotan plastik, karpet, sepatu, maenan anak, lumpia basah, susu kedelai, sampe baju jablai (= ini kosakata baru yang kudapat pagi ini. Ini baju model babydoll yang bermotif ala 70an. Liat aja artis-artis sekarang, pasti padha pake baju ini) . Tapi yang selalu menarik minatku cuma satu, Cimol....
Sumpah ni makanan sebenernya gak enak. Masih jadi pertanyaan besar, kenapa kalo lama gak makan ini, pasti lidahku nagih. Aci yang digoreng. Pastilah udah kebayang rasanya. Kenyal dan gak akan berasa seperti pizza!
Tapi ini ini memang makanan nyentrik yang menarik. Bukan karena rasanya, tapi mungkin karena sensasi mengunyah kenyal-kenyal itu. Nama Cimol saja sudah aneh. Apakah itu berarti aci yang dicemol (= dicomot seukuran sendok makan) lalu digoreng. Ato aci yang enak digemol (= kata urang Sunda ini artinya dikulum). Ato juga aci yang digoreng berukuran smol (= baca small). Entahlah.
Dan kalau diusut pun gak jelas makanan ini berasal dari siapa dan di mana. Menurut catatan koran lokal sini, tahun 2004 tiba-tiba saja makanan ini bermunculan berbagai lokasi pusat kaki lima di Bandung. Konon, makanan ini berasal dari Tasikmalaya di tahun 1990-an. Tapi kayaknya, Bandung memang kota yang ditakdirkan memopulerkan berbagai jenis makanan, termasuk Cimol.
Bumbunya juga tidak terlalu enak. Asin ala vetsin. Aku dan Nanik tadi sempat membahas bahwa rasa keju yang jadi bumbu cimolku pagi ini sebenarnya adalah tepung yang dicampur bubuk cabai. Tapi sudahlah. Sebulan lagi sepertinya aku bakalan nyari-nyari Cimol lagi. Sekali lagi bukan karena enak, tapi lebih karena indera pencecapku kangen rasanya yang aneh itu....
Labels: Kudap
Monday, February 05, 2007
Lantas, siapa yang sakit?
Jakarta terendam banjir. Jabar diserang demam berdarah. Dan kicau burung dan kokok ayam pun merayakan kematian.
Lantas, siapa yang sakit?
Mungkin kita lah yang sakit. Bukan hanya jadi sakit fisik, tapi ternyata terlanjur sakit ingatan.
Ini persoalan, wabah, lalai, lupa atau melupakan?
Di rumah, kita lupa juga kalau di belakang pintu ada baju yang bergelantungan. Lupa juga kalau punya punya tumpukan koran di bawah meja.
Di kantor, gak mau tau juga kapan kolam di depan itu terakhir di kuras. Gak mau tau, kalau ada air menggenang di dispenser.
Di jalan, gak mau tau buang sampah udah di tempat sampah ato di selokan.
Lantas siapa yang sakit?
Lantas, siapa yang sakit?
Mungkin kita lah yang sakit. Bukan hanya jadi sakit fisik, tapi ternyata terlanjur sakit ingatan.
Ini persoalan, wabah, lalai, lupa atau melupakan?
Di rumah, kita lupa juga kalau di belakang pintu ada baju yang bergelantungan. Lupa juga kalau punya punya tumpukan koran di bawah meja.
Di kantor, gak mau tau juga kapan kolam di depan itu terakhir di kuras. Gak mau tau, kalau ada air menggenang di dispenser.
Di jalan, gak mau tau buang sampah udah di tempat sampah ato di selokan.
Lantas siapa yang sakit?