Friday, November 17, 2006
Kopi
Kopi dan Mugnya
Kalau saja kuterima tawaran Andin untuk bekerja di restoran fast food, aku pasti tidak harus mencium aroma kopi tiap pagi. Aku tidak suka aroma kopi. Hidungku selalu saja gatal setiap kali aku menghirup aromanya. Dulu waktu aku kecil, simbah selalu ngopi di teras rumah. Kopinya kental betul. Ampasnya saja sampai menumpuk di bibir gelas jumbonya itu. Jangan ditanya aromanya. Kecium sampai belakang rumah. Belum lagi lintingan tembakaunya itu. Uwaaah, sepertinya sampai sekarang bau kopi dan tembakau itu masih saja menempel di hidungku.
+ Mau coba, mbak? Rasa baru nih. Campuran mochanya terasa betul. Sudah ada gulanya, tinggal seduh saja.
+ Kalau beli dua rentengan kopi sachet ini, bisa dapat mug unik. Tidak mahal kok. Cuma lima belas rebu.
Salah nih, masak mbak-mbak aku tawarin kopi? Kemungkinan dibeli kecil banget. Maklum, kopiku masih berampas. Kayaknya hanya mas-mas dan bapak-bapak perokok saja yang masih seneng kopi model gini. Kalah saing nih sama kopi instan yang gak berampas.
Ah, masih ada 45 paket yang harus kujual. Tadinya kupikir mudah menjual barang seperti ini. Aku sepertinya terlalu sombong untuk menerima tantangan menjual 50 paket malam ini. Kopi ini ternyata tidak selaris yang kuduga. Pantas saja perusahaan kopi ini harus promosi sampe ke pasar malam begini. Pakai berhadiah gelas yang modelnya gak lazim pula. Mana ada orang yang mau miunum kopi dari gelas tebal warna hitam dan berbentuk oval? Mau menempelkan bibir saja rasanya kok ya tidak pas. Rasanya bibirnya jadi miring-miring begitu.
- Mau dong mas nyobain kopinya.
+ Eh, silakan mbak.
- Enak juga.
+ Beli mbak. Murah kok.
Mulai kukeluarkan jurus merayuku.
Dan...
- Boleh deh mas, satu renteng aja lah. Aku udah punya mug banyak.
--------------------
Dongeng Kopi
+ Kalau mau bikin kopi ini harus dengan air mendidih. Biarkan sampai busanya hilang dan ampasnya turun mengendap. Dan gulanya sedikit saja.
Aku tidak pernah bosan memberikan tips ini. Opa yang memberikannya padaku. Ia mewariskan pengetahuannya tentang kopi jauh sebelum ia mewariskan toko ini padaku. Ah, belum pernah aku melihat orang yang begitu mencintai biji-biji kopi seperti opaku itu.
- Kalau tidak pakai air mendidih tidak enak ya?
+ Iyaaaa ..., karena kopi kami ini terbuat dari biji-biji kopi yang asli. Murni biji kopi tanpa campuran jagung. Jadi memang harus diseduh dengan air mendidih supaya kopi yang enak betul.
+ Kami menggiling sendiri bijinya. Sudah delapan tahun biji-biji ini disimpan di gudang belakang ...
Aku mencintai usaha ini seperti aku mencintai opa. Bagiku, toko kopi ini adalah hidupku. Aroma kopi itu membuatku bahagia. Dan aku lebih berbahagia lagi ketika orang-orang datang ke tokoku membeli untuk kopi. Toko kopiku memang sudah tua. Dan kerenanya kopiku pun menjadi bagian dari kenangan orang-orang tua yang datang ke mari. Menghirup aroma kopi bagi mereka mungkin seperti menghirup kembali kenangan harum masa muda mereka.
+ Mau arabika atau robusta?
Pertanyaan standar itu kulontarkan pada seorang perempuan muda di depanku.
- Apa bedanya?
+ Kalau arabika rasanya lebih soft. Bagi yang punya sakit maag tapi pengen ngopi, lebih baik minum ini. Dan kalau robusta itu kuat sekali. Tapi bisa juga menyeduh kopi dengan campuran keduanya...
Dan dongeng kopi pun kumulai. Aku ingin toko kopiku tak hanya tersesap dalam kenangan masa lalu, tapi juga mengambil bagian dalam cerita masa depan.
-------------------------
Rumah Kopi + Waduh enaknya yang mana nih? Bingung.
- Pakai rum raisin sepertinya enak ya?
+ Wah iya. Enak tuh. Nah, ini nih, Queen of Night sepertinya enak
- Emang itu campurannya apa aja? Eh, coba nih ada yang pakai coconut milk. Aku gak bisa bayangin rasanya?
+ Iya, di sini memang kopinya lumayan enak. Tapi aku lebih seneng tempatnya. Asik banget. Kayak rumah simbah di Purwokerto.
- Iya juga sih. Bata expose. Aku pesen Yesterday Party aja lah. Pake rum raisin yang udah pasti kerasa enakmya.
Labels: Pernik
Thursday, November 09, 2006
Buto Ijo
Buto Ijo di Taman Kaliurang menyelinap ke kamar seorang bocah, dan akan mendengkur di kolong tempat tidur. Dengkurannya membuat kamar itu terguncang. Lampu kamar yang menyala terayun-ayun, menggoyang bayangan lemari besar di sudut kamar. Menggerakkan gordyn hijau di jendela. Begitu setiap malam. Tak ada yang menyadari kecuali bocah pemilik kamar. Waktu tidur menjadi kutukan buat si bocah.
Buto bisa saja sewaktu-waktu menerkamnya. Itu yang membuatnya was-was untuk memejamkan mata.
Karenanya, sebelum tidur si bocah akan sibuk menata dua guling besar untuk menutupi lubang menganga antara dinding dengan tempat tidurnya. Dengan begitu tak ada lagi celah tempat si Buto akan merayap menghampirinya. Ia pun akan segera mematikan lampu kamarnya. Berharap tak lagi melihat bayangan yang bergoyang-goyang di sudut kamar. Dan berharap tak melihat lagi gordyn hijau yang bergerak-gerak. Kamar yang gelap akan membuatnya terpejam cepat.
21 tahun kemudian, Buto Ijo kembali menyelinap. Ternyata ia tidak pergi kemana-mana. Mendengkur di kolong gelap masa lalu. Aku takut, ia akan menyelinap mencekikku...
-----------------------
Genggam tanganku dan kita cari tempat yang lebih baik
Di tempat yang bisa melihat matahari terbenam
Tempat yang dikata orang sebagai ujung pelangi
Aku akan menganyam hangat mentari agar kamu tetap tersenyum
-matahari
Buto bisa saja sewaktu-waktu menerkamnya. Itu yang membuatnya was-was untuk memejamkan mata.
Karenanya, sebelum tidur si bocah akan sibuk menata dua guling besar untuk menutupi lubang menganga antara dinding dengan tempat tidurnya. Dengan begitu tak ada lagi celah tempat si Buto akan merayap menghampirinya. Ia pun akan segera mematikan lampu kamarnya. Berharap tak lagi melihat bayangan yang bergoyang-goyang di sudut kamar. Dan berharap tak melihat lagi gordyn hijau yang bergerak-gerak. Kamar yang gelap akan membuatnya terpejam cepat.
21 tahun kemudian, Buto Ijo kembali menyelinap. Ternyata ia tidak pergi kemana-mana. Mendengkur di kolong gelap masa lalu. Aku takut, ia akan menyelinap mencekikku...
-----------------------
Genggam tanganku dan kita cari tempat yang lebih baik
Di tempat yang bisa melihat matahari terbenam
Tempat yang dikata orang sebagai ujung pelangi
Aku akan menganyam hangat mentari agar kamu tetap tersenyum
-matahari
Labels: Laras
Tuesday, November 07, 2006
Pohon Berdaun Kuning
sepotong senjaku kembali
bersama guguran dedaunan
yang tak lebih lebar dari koin seratusan
dedaunan warna kuning
yang rontok di kanan kiri sepanjang jalan
angin akan mempermainkannya
ke kanan ke kiri
seperti aku memainkan kelopak daun yang sama
sepotong senjaku kembali
sama seperti kuhirup aroma pucuk-pucuk pohon itu
sama seperti kuinjakkan kakiku pertama di kota ini
sama seperti aku lihat hujan pertama di bulan november dari bawah pohon itu
sayang sekali, senja kemarin hujan tidaklah datang ...
Cilaki, 4/11/2006
Pohon-pohon itu namanya apa sih?Besar, kekar, berkulit kayu lembab. Selalu merontokkan daun berwarna kuning cerah ketika bulan Oktober mulai mampir. Ketika itu, aroma kayu yang khas pun menguar ... Apa betul pohon-pohon itu yang bernama Ki Hujan alias Samanea saman?
bersama guguran dedaunan
yang tak lebih lebar dari koin seratusan
dedaunan warna kuning
yang rontok di kanan kiri sepanjang jalan
angin akan mempermainkannya
ke kanan ke kiri
seperti aku memainkan kelopak daun yang sama
sepotong senjaku kembali
sama seperti kuhirup aroma pucuk-pucuk pohon itu
sama seperti kuinjakkan kakiku pertama di kota ini
sama seperti aku lihat hujan pertama di bulan november dari bawah pohon itu
sayang sekali, senja kemarin hujan tidaklah datang ...
Cilaki, 4/11/2006
Pohon-pohon itu namanya apa sih?Besar, kekar, berkulit kayu lembab. Selalu merontokkan daun berwarna kuning cerah ketika bulan Oktober mulai mampir. Ketika itu, aroma kayu yang khas pun menguar ... Apa betul pohon-pohon itu yang bernama Ki Hujan alias Samanea saman?
Labels: Laras