Tuesday, September 26, 2006

 

Dulu Tuhan Pernah Tersenyum di sini

Sepotong jalan di Kecamatan Cicurug. Jalan yang berada di ujung utara Kabupaten Sukabumi. Seruas jalan yang menuju Kabupaten Bogor di sebelah utara. Panjangnya tidak lebih dari satu kilometer.
Bagi pendatang sepertiku, jalan itu tentu biasa saja. Tapi jalan itu menjadi begitu istimewa karena begitu menjejakkan kakiku di situ, sontak berpikir Tuhan kini tak lagi tersenyum di tanah Priangan.
Bukan perkebunan teh atau kopi ala tanam paksa abad 18 yang di kanan kiri jalan itu. Bukan pula pedati atau kereta uap yang lewat di situ. Tapi truk truk gandeng yang berlomba dengan angkot, dan di sela-selanya terhimpit motor. Jangan harapkan udara sejuk, meski jalan itu berada di punggung gunung, bersiaplah untuk menghirup udara kering bercampur debu.
Di sudut kota tua Pamoyaman, ibu kota Kabupaten Cianjur. Meski sudah ada sejak 1792, kilas masa lalu tak terpahat lagi di dinding bangunannya. Masjid agung pun sudah tidak menyisakan bentuk aslinya. Bukan masjid yang beraroma kayu lapuk lembab tapi bangunan megah beraroma karpet yang baru dibersihkan tiga hari lalu.
Di jalan-jalan kota tak nampak lagi keramahan. Pejalan kaki terhimpit becak dan motor. Angkot menjadi raja jalanan. Sopir-sopir itu agaknya enggan untuk menyapa penumpangnya. Mereka lebih suka memanggil para penumpang dengan suara klakson yang bikin kepalaku rasanya mau meledak karena bisingnya. Bagi pendatang sepertiku, kota tua itu biasa saja. Tapi kota itu menjadi istimewa ketika kupikirTuhan kini tak lagi tersenyum di tanah Priangan.
Aku bukan orientalis. Tapi cerita tentang pesona tanah Priangan yang elok rupawan telah lebih dulu mendekam di otakku. Mungkin benar kalau Tuhan pernah tersenyum di sini... dulu.

Sunday, September 10, 2006

 

Tentang Keluarga Rumput

+ Ini ibu rumput
+ Ini suami rumput
+ Ini bayi rumput
+ Ini keponakan laki-laki rumput

Itu sejumlah tulisan pada secarik kertas kecil yang ditancapkan dengan lidi ke sebidang tanah berumput. Masing-masing perkenalan, dituliskan pada satu kertas. Karena lahannya lumayan panjang, dan tulisannya juga mungkin jumlahnya seratusan, alhasil tulisan-tulisan itu seperti vegetasi baru yang tumbuh di halaman ITB. Kalau ingat tentang keluarga rumput, mungkin gak perlu lagi ada tulisan Dilarang Menginjak Rumput. Itu pelajaran yang kudapat dari Pasar Seni ITB. Lucu juga idenya!

Saturday, September 09, 2006

 

Ada Gerhana Bulan!

Jumat, dini hari, jam dua kurang tujuh menit.
Mencoba menjadi saksi peristiwa alam bersama belasan orang lainnya. Sudah hampir dua jam aku berkali-kali menatap bulan. Melihat bayangan hitam yang merambat perlahan menutupi wajah bulan yang purnama. Ya, aku melihat gerhana bulan!

Beruntung ada tikar yang tidak seberapa luas, setidaknya membuat leherku tidak kaku demi melihat fenomena yang dianggap penting itu. Badanku rebah, dengan kaki yang berulang kali bergerak ke kanan ke kiri untuk mengusir angin Lembang yang dingin. Tapi percuma. Kaki dan badanku tetap saja dingin.

Aku mungkin terlalu antusias. Sama seperti belasan orang temanku itu. Salah informasi tepatnya. Aku terlanjur mengira bahwa itu adalah gerhana bulan total. Ternyata, hanya 20 persen muka bulan yang tertutup. Waduh! Padahal udah pamer sama Law segala!

Tak apalah, setidaknya aku bisa melihat gerhana bulan dari di Observatorium Bosscha. Tempat yang sudah kesohor untuk meneliti benda-benda langit sejak zaman menir tahun 1923.

Sempat juga mengintip bulan di layar komputer yang sudah disambungkan dengan Teleskop Unitron. Dari lima teleskop yang ada, Unitron yang terkecil. Tapi, yang bikin aku bertambah takjub, teleskop itu didesain untuk mengikuti gerak bulan secara mekanik. Kulihat ada silinder yang terus berputar, padahal tidak ada mesin bersolar yang menggerakkannya. Jadi inget jam tangan mbah kakung yang tidak pakai batere.

Foto bulan: Pak Hendro Setyanto, observer

Labels:


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.