Thursday, August 24, 2006
Rumah Mungil di Tepi Sungai
Rumah mungil di tepi sungai
Bukan rumah cokelat, tapi lebih mirip biskuit
Kotak kotak berhimpit
Di tengahnya ada krim manis
Manis senyummu
Senyum ibu bapakmu
Rumah mungil di tepi sungai
Sungai itu bukan sungai cokelat milik Wonka
Bukan pula milikmu
Lebih suka aku menyebutnya milik kita
Seperti senja ungu jingga di atas atap
Bersama serbuan nyamuk yang mungkin belasan atau puluhan
Dan lukisan itu pun hilang di telan gelap
Romantis itu tidak selalu harus sakit kan?
Sampangan, 20/08/06
Bukan rumah cokelat, tapi lebih mirip biskuit
Kotak kotak berhimpit
Di tengahnya ada krim manis
Manis senyummu
Senyum ibu bapakmu
Rumah mungil di tepi sungai
Sungai itu bukan sungai cokelat milik Wonka
Bukan pula milikmu
Lebih suka aku menyebutnya milik kita
Seperti senja ungu jingga di atas atap
Senja yang kita tatap
Seraya berharap tak cepat-cepat lewatSemilir angin membawa keriut jembatan bambu
Di bawah langkah para pendoa
Langit berubah temaram
Rumah mungil di tepi sungai pun ikut temaram
Senja kali itu seperti lukisan di buku dongeng
Sayang malam terlalu cepat datangBersama serbuan nyamuk yang mungkin belasan atau puluhan
Dan lukisan itu pun hilang di telan gelap
Romantis itu tidak selalu harus sakit kan?
Sampangan, 20/08/06
Labels: Laras
Monday, August 14, 2006
Pulang
Aku akan pulang
Pulang
Menemui ibuku
Ibuku yang menungguku di ruang keluarga kami yang hangat
Dengan secangkir teh yang juga hangat
Ya, aku akan pulang
Pulang
Menemui kekasihku
Kekasihku yang akan menungguku di stasiun
Dan bersamanya kami akan membelah Yogya yang baru terjaga
Aku akan pulang
Pulang
Menemui separuh hidupku
Di tempat yang selalu aku sebut rumah
Aku akan pulang
Pulang
Pulang
Menemui ibuku
Ibuku yang menungguku di ruang keluarga kami yang hangat
Dengan secangkir teh yang juga hangat
Ya, aku akan pulang
Pulang
Menemui kekasihku
Kekasihku yang akan menungguku di stasiun
Dan bersamanya kami akan membelah Yogya yang baru terjaga
Aku akan pulang
Pulang
Menemui separuh hidupku
Di tempat yang selalu aku sebut rumah
Aku akan pulang
Pulang
Labels: Laras
Tuesday, August 08, 2006
Susu "Hi Cal"

Akhir-akhir ini punggungku sakit. Tidak setiap hari. Seperti angin malam yang menerobos ventilasi kamarku, yang datang dan pergi, yang kadang dingin kadang tidak terasa.
Aku mulai memikirkan sebabnya. Karena salah tidur, kurang peregangan badan, kelamaan naek motor, sikap duduk yang salah pas ngetik di komputer, atau kekurangan kalsium? Jawaban terakhir menunjukkan tidak saja tulang punggungku yang bermasalah, tapi sepertinya akal sehatku juga sedikit bermasalah akhir-akhir ini.Aku mulai memikirkan untuk mengonsumsi susu dengan kadar kalsium tinggi. Ini betul-betul menggugah pikiran mapanku.
Sebelumnya aku selalu berpikir bahwa semua susu adalah baik. Dan semua susu mengandung kalsium yang berguna buat pembentukan tulang. Tapi entah bagaimana, kini aku punya anggapan bahwa susu "hi cal" itu bener-bener mengandung kalsium yang lebih tinggi daripada susu cap bendera yang biasanya aku minum. Dan kupikir itu membuatnya lebih baik. Padahal aku minum susu cap bendera itu sudah dari TK. Dan tidak ada satu pun merek susu yang rasanya bisa menggantikan rasa susu itu di lidahku.
Bukan karena enak sebenernya sehingga membuat rasa susu itu tak tergantikan. Tapi karena sudah terlalu biasa. Bertahun-tahun. Rasa itu mengerak di lidahku. Bagaimana tidak? Semua orang di sekitarku minum itu. Mamaku, simbahku adalah contohnya. Sejak aku bisa mengingat, aku tau kedua perempuan itu setiap hari minum susu cap bendera di pagi hari. Empat sendok teh susu dicampur tiga sendok teh gula dan satu sendok penuh cokelat bubuk. Manisnya minta ampun. Kentalnya apa lagi. Mengalahkan susu kental manis yang pada zaman TK dulu begitu menggoda anak-anak seumurku.
Nah, karena sepanjang umurku ini aku selalu minum susu, aku tidak pernah sekalipun berpikir aku kekurangan kalsium. Hingga sakit punggung ini membuatku khawatir. Aku pun mulai berhitung-hitung dengan kalsiumku. Hitungan serampangan sebenernya. Katanya, menurut info di artikel-artikel kesehatan yang kubaca, perempuan di usiaku, yang 25 tahun ini, lebih cepat melepaskan kalsium dari pada menyerap kalsium. Jadi, kalau aku kurang mengonsumsi kalsium, maka badan akan ambil kalsium dari tulangku. Lalu, tulangku jadi tak lagi padat dan beresiko keropos. Padahal, masih kata artikel-artikel itu, perempuan seumurku membutuhkan 1.000 mg/hari sementara itu rata-rata orang hanya mengonsumsi 250 mg/hari. Lha trus gimana coba?
Begitulah. Dan aku pun mulai terpengaruh sejak sakit punggungku ini. Apalagi sejak aku mulai memikirkan gigiku yang juga keropos. Dan secara serampangan aku mulai menghubung-hubungkan dua hal yang aku pun tidak yakin itu memang berhubungan. Aku pun mulai membeli susu "hi cal". Entah apa alasannya. Yang jelas, sepertinya aku lebih perlu akal sehat sekarang ini. Paling tidak untuk menjawab pertanyaanku sendiri, "Apa iya susu "hi cal" itu lebih baik daripada susu yang tidak "hi cal"?"
Labels: Sehat