Sunday, May 28, 2006
Sabtu Kelabu
Itu Sabtu kelabu yang pernah aku tahu
Ketika maut datang dari laut
Mampir membelai daratan selatan
Menghantarkan kepanikan
Tangisan
Dengan ribuan korban
Ah, itu sabtu paling kelabu yang pernah aku tahu
28/05/06
Ketika maut datang dari laut
Mampir membelai daratan selatan
Menghantarkan kepanikan
Tangisan
Dengan ribuan korban
Ah, itu sabtu paling kelabu yang pernah aku tahu
28/05/06
Friday, May 26, 2006
Nirwana
Seorang teman lama meneleponku pagi kemarin. Dia menanyakan kabarku, dan kami pun saling bertukar cerita. Dia bilang bahwa dia sekarang sudah berhasil memenugi keinginannya, yaitu menulis untuk cerita di televisi. Tapi ternyata televisi itu tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia harus berlomba dengan waktu untuk menghasilkan jalan cerita yang terbaik. Dan dia juga sehari-hari harus memeras otaknya supaya cerita kreatif itu mengalir. "Sungguh, televisi itu tidak seperti nirwana," ujarnya dalam tawanya yang masih saja seperti dulu.
Aku tahu, dia memang suka menulis. Apa saja yang bisa dia tulis, pasti akan dia jadikan tulisan. Tulisannya menarik. Setidaknya bisa membuatku untuk mengkhayalkan lebih jauh cerita selanjutnya. Tapi yang lebih aku sukai adalah semangatnya. Meski dia tidak menemukan nirwananya, dia masih saja bisa tertawa. Tentu dengan tawanya yang sama seperti dulu, sengau dan sama sekali tidak renyah. Bahkan, dia sempat bilang akan mengirimkan foto terbarunya dengan rambutnya yang dicat. "Aku lebih gaul sekarang!" serunya. Dan karenanya, aku pun bisa menikmati kesenangannya. Kesenangannya dalam nirwana yang telah dibangunnya.
Dia juga sempat bercerita tentang tiga teman kami yang laen. Tiga teman dengan tiga nirwana mereka. Nirwana yang membuat mereka betah dengan status mahasiswa. Dan kesimpulan kami, tiga teman itu sepertinya menolak untuk memasuki dunia nyata. Mereka lebih senang mempertahankan dunia mahasiswa mereka plus mimpi membangun nirwana mereka. Tapi sudahlah setidaknya mereka punya nirwana.
Apakah aku harus membangun Nirwanaku, di sini?
Aku tahu, dia memang suka menulis. Apa saja yang bisa dia tulis, pasti akan dia jadikan tulisan. Tulisannya menarik. Setidaknya bisa membuatku untuk mengkhayalkan lebih jauh cerita selanjutnya. Tapi yang lebih aku sukai adalah semangatnya. Meski dia tidak menemukan nirwananya, dia masih saja bisa tertawa. Tentu dengan tawanya yang sama seperti dulu, sengau dan sama sekali tidak renyah. Bahkan, dia sempat bilang akan mengirimkan foto terbarunya dengan rambutnya yang dicat. "Aku lebih gaul sekarang!" serunya. Dan karenanya, aku pun bisa menikmati kesenangannya. Kesenangannya dalam nirwana yang telah dibangunnya.
Dia juga sempat bercerita tentang tiga teman kami yang laen. Tiga teman dengan tiga nirwana mereka. Nirwana yang membuat mereka betah dengan status mahasiswa. Dan kesimpulan kami, tiga teman itu sepertinya menolak untuk memasuki dunia nyata. Mereka lebih senang mempertahankan dunia mahasiswa mereka plus mimpi membangun nirwana mereka. Tapi sudahlah setidaknya mereka punya nirwana.
Apakah aku harus membangun Nirwanaku, di sini?
Labels: Celoteh
Sunday, May 07, 2006
Hujan
Seorang lelaki nyaris terlelap ketika hujan turun
Ini menjelang waktu tidur siangnya
Ting-ting.. hujan itu mulai berdenting di kepalanya
Mengingatkan pada kekasihnya
Kekasih yang setiap pagi dendangnya ia rindukan
Ia merindukan kekasihnya seperti bumi yang merindukan hujan
Seperti matahari yang membiaskan cahayanya dalam hujan
Begitu sederhana
Berlalu sepeti halnya waktunya yang kini membatu
Ia selalu melihat senyum kekasihnya ketika hujan datang
Lelaki itu pun beranjak
Dari jendela dilihatnya bukit di sana
Hujan telah membawa kabut
Putih bergumpal-gumpal
Lelaki itu membuka pintu rumahnya
Berharap seseorang akan datang senja itu
Tidak ada seorang pun di sana
Yang terlihat hanya tetes air atap terasnya
Jatuh satu persatu
Melubangi tanah membentuk deretan lubang-lubang kecil
Mungkin seperti hatinya yang juga berlubang?
Entahlah
Dipersilahkannya hujan masuk
"Masuklah, nanti kau kedinginan!"
Hujan berdenting-denting
Bertambah semangat memainkan repertoarnya
Kini jendela rumah itu pun diketuk-ketuknya
Dan lelaki itu pun mulai mengetuk-ketukkan kakinya
Mengikuti irama hujan
"Kenapa baru sekarang kamu datang?"
Dan hujan pun tersenyum
Diajaknya lelaki itu berdansa bersamanya
Dan lelaki itu pun menyambutnya
Keesokan pagi
Seorang lelaki berambut putih
Wajah tangan dan kakinya pun memutih pucat
Ditemukan terbaring di atas tanah basah
Bibirnya menyungging senyum
Seperti hujan yang telah tersenyum padanya
Sepanjang malam itu
Bandung 07/06/06
Ketika hujan memahat senyum kekasihku di teras
Ini menjelang waktu tidur siangnya
Ting-ting.. hujan itu mulai berdenting di kepalanya
Mengingatkan pada kekasihnya
Kekasih yang setiap pagi dendangnya ia rindukan
Ia merindukan kekasihnya seperti bumi yang merindukan hujan
Seperti matahari yang membiaskan cahayanya dalam hujan
Begitu sederhana
Berlalu sepeti halnya waktunya yang kini membatu
Ia selalu melihat senyum kekasihnya ketika hujan datang
Lelaki itu pun beranjak
Dari jendela dilihatnya bukit di sana
Hujan telah membawa kabut
Putih bergumpal-gumpal
Lelaki itu membuka pintu rumahnya
Berharap seseorang akan datang senja itu
Tidak ada seorang pun di sana
Yang terlihat hanya tetes air atap terasnya
Jatuh satu persatu
Melubangi tanah membentuk deretan lubang-lubang kecil
Mungkin seperti hatinya yang juga berlubang?
Entahlah
Dipersilahkannya hujan masuk
"Masuklah, nanti kau kedinginan!"
Hujan berdenting-denting
Bertambah semangat memainkan repertoarnya
Kini jendela rumah itu pun diketuk-ketuknya
Dan lelaki itu pun mulai mengetuk-ketukkan kakinya
Mengikuti irama hujan
"Kenapa baru sekarang kamu datang?"
Dan hujan pun tersenyum
Diajaknya lelaki itu berdansa bersamanya
Dan lelaki itu pun menyambutnya
Keesokan pagi
Seorang lelaki berambut putih
Wajah tangan dan kakinya pun memutih pucat
Ditemukan terbaring di atas tanah basah
Bibirnya menyungging senyum
Seperti hujan yang telah tersenyum padanya
Sepanjang malam itu
Bandung 07/06/06
Ketika hujan memahat senyum kekasihku di teras