Friday, April 14, 2006

 

Ratmi

“Bangun, sayang!”
Ucapan itu membuyarkan lamunanku. Kulihat perempuan muda berbaju sewarna telur asin duduk di ujung bangku. Kutaksir mungkin usianya tak lebih dari tiga puluh tahun. Rambutnya dicat warna pirang digelung.
Di pangkuannya, duduk bocah berusia sekitar tujuh tahun. Kepalanya rebah di bahu perempuan itu. Matanya terpejam. Rambutnya yang keriting dipermainkan angin yang masuk lewat jendela yang terbuka. Cepat-cepat perempuan itu menutup jendela itu. Kembali dipeluknya si bocah seolah tak ingin ia kedinginan.
”Lihat ada pesawat. Kapan-kapan kita pergi naik itu ya.” kata perempuan itu lagi pada si bocah. Namun si bocah tetap terpejam.
Perempuan itu menggamit telapak tangan si bocah dan mengangkatnya. Tangan kecil itu terkulai lemas. Lembut perempuan itu menciumi telapak mungil itu. Namun si bocah tetap terpejam.
Angkot berhenti. Seseorang perempuan naik. Perempuan itu menggeser duduknya lebih ke ujung. Kulihat perempuan itu makin resah. Wajahnya yang putih terlihat berpeluh. Angin yang masuk lewat pintu angkot yang terbuka tak mampu mengusir peluhnya. Bajunya mulai dibasahi keringat.
Diusapnya dahi si bocah. Dipandanginya wajahnya. Dan ia berkata lagi, ”Sebentar lagi kita sampai. Sabar, ya, sayang.” Kulihat mata si bocah terbuka. Hanya sebentar. Kemudian terpejam lagi. Namun, tampaknya itu bisa membuat perempuan itu tersenyum. Sebentar.
”Kamu mau dibelikan baju yang wana merah itu ya? Nanti kalau kita sudah sampai, kita tidur dulu ya. Trus nanti kita beli baju itu,” kata perempuan itu sambil mencium pipi si bocah. ”Di toko itu, ya, sayang?” Tangannya meraih tangan si bocah dan menunjukkannya ke plaza yang baru saja terlewati. Namun si bocah masih saja terpejam.
Hening. Perempuan itu terus memeluk si bocah tanpa berkata apa pun lagi. Yang kudengar sekarang hanya deru mesin mobil yang kurang perawatan.
Kulihat bocah itu. Usianya sama dengan Ratmiku ketika terakhir kali aku melihatnya. Ah, nduk, kamu di mana sekarang?

***

”Sebentar lagi kita sampai. Ngantuk ya? Mau ibu gendong? Sabar ya sayang. Tidak jauh lagi.”
Ratmi hanya bisa menatapku. Dia tidak mengatakan apapun. Seolah tahu pikiranku yang kalut. Aku terpaksa mengajaknya pergi malam ini juga. Biasanya dia sudah tertidur, tapi kali ini aku bilang padanya akan pergi ke rumah Bulik Mirah. Sial sekali. Bis yang kami tumpangi mogok. Dan akhirnya kami terpaksa menempuh jarak beberapa kilo lagi dengan berjalan kaki.
”Bu, kenapa mereka mau menangkap kita?”
”Tidak. Mereka tidak akan menangkap kita sayang.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Rukmi. Aku tidak menyangka dia tahu kejadian kemarin malam di rumah Haji Tohar tetangga kami. Kupikir kemaren dia sudah tidur. Beberapa orang menjemput Haji Tohar dengan paksa. Mereka menggedor pintu rumahnya, dan memaksa masuk dengan paksa. Beberapa orang berjaga di muka rumah sambil membawa sangkur dan senapan. Kuhitung ia adalah orang kedua belas yang dijemput malam-malam dari desa kami. Entah mau berapa orang lagi.
Ah, seharusnya aku menuruti kata Salman untuk segera pindah. ”Sutami, nyawamu juga terancam. Cepat bakar semuanya, sebelum mereka tahu keterlibatanmu dalam organisasi. Segera tinggalkan rumah!” begitu katanya sebelum pergi. Ia kupaksa meninggalkan aku dan Ratmi karena keadaan makin genting. Kini, setelah Haji Tohar ditangkap, cepat atau lambat aku pasti juga akan ditangkap.
Beberapa bulan lalu aku memang sempat membantu Haji Tohir mengetikkan beberapa surat. Aku kagum pada orang tua itu. Kupikir dia baik, mau membantu membujuk beberapa pejabat desa supaya para petani miskin di desa kami dapat memanfaatkan lahan kosong di areal bekas pabrik roti milik orang Belanda.
”Daripada dibiarkan terbengkalai, lebih baik dipakai untuk menanam jagung,” begitu katanya. Dia orang baik, sampai beberapa orang memperlakukannya seperti penjahat. Mereka membawanya pergi naik truk.
”Bu, kenapa kita musti pergi malam-malam begini? Apa karena mereka mau menangkap kita? Apa iya nanti kita juga dinaikin truk seperti Haji Tohir? Ratmi nggak suka naik truk, Bu.”
”Walah, kamu ini denger dari mana? Udah jangan mikir yang nggak-nggak to. Gini ya nduk, ibu besok harus pergi beberapa hari ke rumah Pakde Har di Semarang. Jadi, beberapa hari kamu ibu tinggal di rumah Bulik Mirah dulu ya. Nanti ibu jemput lagi.”
“Sama bapak juga?”
“Iya, sama bapak.”

***

Empat puluh tahun sudah. Aku tak pernah lagi bertemu Ratmi. Aku terlambat menjemputnya. Rumah Mirah sudah kosong ketika aku mendatanginya selepas dari penjara tahun 1987. Penjara tanpa pengadilan. Penjara yang menyisakan dendam.
”Bangun Yang!”
Aku terbangun. Ratih meraih tanganku.
”Bangun Eyang, kita sudah sampai. Hati-hati turunnya.”
Dibimbingnya aku turun dari angkot. Kulihat bangku yang diduduki perempuan itu kini kosong. Kupandangi Ratih. Gadis anak tetanggaku ini yang kini setia menjagaku. Dia sudah kuanggap sebagai Ratmiku.


Suatu hari di November 2005.

Labels:


Wednesday, April 05, 2006

 

Kunang-kunang

Ingatanku pada kunang-kunang cukup baik.
Dulu, aku sering lihat kunang-kunang di bawah pohon nangka di depan rumah. Sayang, sejak di depan rumah pohon makin berkurang dan semak pun makin jarang, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Aku juga tidak lagi ingat kapan terakhir melihat kunang-kunang.
Kunang-kunang terlucu yang pernah kulihat ada di Cupido. Komik lama terbitan Indira. mungkin itu terbitan satu-satunya untuk label Cupido. Tak tahulah. Soalnya, aku sudah tidak pernah melihat wujudnya lagi di toko buku. Di situ kunang-kunang digambarin punya bolam lampu di badannya. Gara-gara itu juga, sampai sekarang aku selalu berpikir kalau kunang-kunang memang selalu bawa-bawa lampu, seperti keong yang selalu bawa-bawa rumah.
Impresiku pada kunang-kunang terbangun waktu aku baca Seribu Kunang-kunang di Mahattan kira-kira tiga tahun lalu. Cerita itu membawaku pada kunang-kunang lucuku yang kulihat di depan rumah dulu. Dan cerita itu juga yang menggugahku kalau seribu kunang-kunang bisalah sangat indah. Seperti ribuan kunang-kunang yang kulihat dari atas bukit di Semarang... 21/01/06

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

adopt your own virtual pet!
www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from suryasenja. Make your own badge here.