Friday, March 31, 2006
Kejutan!
Mungkin benar ketika aku berumur delapan tahun kejutan itu identik dengan kesenangan. Waktu itu aku mendapat kejutan handuk warna biru dari bapak. Handuk lebar yang bertuliskan namaku di tengahnya. Kata bapak waktu itu, "Ini buat kamu bawa berenang." Kejutan sederhana, yang sangat menyenangkan.
Tapi masa itu sepertinya sudah lewat. Bagiku tidak selamanya terkejut itu menyenangkan. Orang yang punya sakit jantung tentu tidak senang kalau terkejut. Tapi herannya, masih saja ada orang yang senang dikejutkan dengan suara-suara aneh dan triakan-triakan ketika menonton film horor. Bagiku, itu kejutan yang sangat tidak menyenangkan.
Benar besok adalah 1 April. Jadi, sah saja kalau orang memberi kejutan bertajuk April Mop. Tapi bagiku, orang tidak perlu banyak alasan untuk memberi sebuah kejutan. Bisa saja karena satu alasan saja... yakni ruang! Dan malem ini aku dapet kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan. Apa yang kukerjakan selama empat jam sia-sia. Itu juga membuatku terkejut! Dan itu lagi-lagi bukan kejutan yang menyenangkan.
Yah, aku tahu hidup itu memang penuh kejutan. Seperti kata Forestgump yang bilang kalau hidup itu seperti sekotak coklat dengan berbagai rasa di dalamnya. Atau seperti yang di film Harry Potter yang punya sebungkus permen aneka rasa termasuk rasa lendir or something (aku bukan Potter mania!). Aku tidak menutup mata tentang itu.
Apalagi sekarang, pekerjaanku terlalu penuh kejutan. Harus dinamis katanya. JAdi harus siap dengan segala perubahan dan konsekuensinya. Dengan frame sepuluh bulan lalu, hidupku sekarang ini sudah menjadi kejutan juga. Menyenangkan? Mungkin aku baru bisa benar-benar menjawabnya dalam tiga atau dua tahun ke depan.
Masa-masa menunggu kejutan memang sudah lama lewat. Entah aku harus bersyukur atau malah bersedih. Seolah aku tak lagi bisa mengagumi hal-hal kecil di luar kebiasaan. Kejutan menjadi terlalu biasa. Mungkin gara-gara doktrin sialan yang membuatku harus harus berpikir dinamis? Atau jangan-jangan aku sekarang memang perlu dikejutkan. Seperti orang yang jantungnya berhenti dan membutuhkan sengatan listrik untuk membuatnya berdetak kembali. Supaya aku tahu bahwa hidup ini tidak statis?
Namun, meski aku tak lagi bisa mengapresiasi kejutan seperti 17 tahun lalu, gajah pink adalah kejutan yang menyenangkan! Sangat!
Tapi masa itu sepertinya sudah lewat. Bagiku tidak selamanya terkejut itu menyenangkan. Orang yang punya sakit jantung tentu tidak senang kalau terkejut. Tapi herannya, masih saja ada orang yang senang dikejutkan dengan suara-suara aneh dan triakan-triakan ketika menonton film horor. Bagiku, itu kejutan yang sangat tidak menyenangkan.
Benar besok adalah 1 April. Jadi, sah saja kalau orang memberi kejutan bertajuk April Mop. Tapi bagiku, orang tidak perlu banyak alasan untuk memberi sebuah kejutan. Bisa saja karena satu alasan saja... yakni ruang! Dan malem ini aku dapet kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan. Apa yang kukerjakan selama empat jam sia-sia. Itu juga membuatku terkejut! Dan itu lagi-lagi bukan kejutan yang menyenangkan.
Yah, aku tahu hidup itu memang penuh kejutan. Seperti kata Forestgump yang bilang kalau hidup itu seperti sekotak coklat dengan berbagai rasa di dalamnya. Atau seperti yang di film Harry Potter yang punya sebungkus permen aneka rasa termasuk rasa lendir or something (aku bukan Potter mania!). Aku tidak menutup mata tentang itu.
Apalagi sekarang, pekerjaanku terlalu penuh kejutan. Harus dinamis katanya. JAdi harus siap dengan segala perubahan dan konsekuensinya. Dengan frame sepuluh bulan lalu, hidupku sekarang ini sudah menjadi kejutan juga. Menyenangkan? Mungkin aku baru bisa benar-benar menjawabnya dalam tiga atau dua tahun ke depan.
Masa-masa menunggu kejutan memang sudah lama lewat. Entah aku harus bersyukur atau malah bersedih. Seolah aku tak lagi bisa mengagumi hal-hal kecil di luar kebiasaan. Kejutan menjadi terlalu biasa. Mungkin gara-gara doktrin sialan yang membuatku harus harus berpikir dinamis? Atau jangan-jangan aku sekarang memang perlu dikejutkan. Seperti orang yang jantungnya berhenti dan membutuhkan sengatan listrik untuk membuatnya berdetak kembali. Supaya aku tahu bahwa hidup ini tidak statis?
Namun, meski aku tak lagi bisa mengapresiasi kejutan seperti 17 tahun lalu, gajah pink adalah kejutan yang menyenangkan! Sangat!
Sunday, March 26, 2006
"Jadi, kita bertemu untuk apa ya?"
"Jadi, kita bertemu untuk apa ya?"
Aku terusik dengan pertanyaanmu malam itu.
"Kenapa ya, kita bertemu tapi ketika bertemu justru bicara dengan orang lain yang jauh di sana?" katamu.
Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ucapanmu. Kamu benar. Kita menunggu lama untuk bisa bertemu untuk sekadar bisa berbincang sambil menatap muka. Bahkan aku sudah terlanjur menganggap diriku sakit ketika bisa tertawa dan kesal bersama pesan yang kamu kirim lewat massanger.
Tapi ketika bertemu, kita justru sibuk mencoba bicara orang yang entah sedang melakukan apa di tempat lain. Sesaat kita kehilangan kontak. Kita larut dalam hening. Entah dalam pikiran, atau entah dalam pembicaraan yang lain. Masing-masing kita sibuk dengan hape.
Lalu kembali kamu menggugahku sore tadi.
"Kamu ada satu kota denganku, tapi kenapa aku justru menghabiskan soreku dengan orang lain?" katamu.
Inilah sebuah dunia yang cacat kataku. Ruang dan waktu tidak selamanya bersahabat. Seperti halnya bahasa dan kata yang tidak selamanya terucap.
Seperti cerita suram dari Homo Jakartanensis-nya Seno. Orang menjadi begitu sibuk. Sampai tak tahu lagi apa yang dilakukan dalam kesehariannya. Orang sibuk mengantri di dimana-mana, tapi begitu sampai di depan justru bengong terlongong-longong dan bertanya,"Aku ngantri ngapain ya?"
Aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang kita pikir sehari-hari ya? Aku pakai segala macam cara untuk menyapamu. Jutaan huruf ada di otakku, tersusun rapi, kusiapkan teliti, untuk kuucapkan ketika kita bertemu. Tapi ketika bertemu, itu semuanya lenyap. Bukan karena aku tidak suka bertemu denganmu, tapi karena aku terlalu girang melihat wajahmu sampai aku lupa mengapa aku harus bertemu denganmu. Atau, yang kutakutkan jangan-jangan aku sudah terlalu menikmati bercakap denganmu sambil menatap layar monitor dan tebaran huruf-huruf celaka di dalamnya yang bikin kepalaku pening!
Aku tahu kamu terusik seperti halnya aku.
"Jadi, kita bertemu untuk apa ya?"
Aku terusik dengan pertanyaanmu malam itu.
"Kenapa ya, kita bertemu tapi ketika bertemu justru bicara dengan orang lain yang jauh di sana?" katamu.
Aku hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ucapanmu. Kamu benar. Kita menunggu lama untuk bisa bertemu untuk sekadar bisa berbincang sambil menatap muka. Bahkan aku sudah terlanjur menganggap diriku sakit ketika bisa tertawa dan kesal bersama pesan yang kamu kirim lewat massanger.
Tapi ketika bertemu, kita justru sibuk mencoba bicara orang yang entah sedang melakukan apa di tempat lain. Sesaat kita kehilangan kontak. Kita larut dalam hening. Entah dalam pikiran, atau entah dalam pembicaraan yang lain. Masing-masing kita sibuk dengan hape.
Lalu kembali kamu menggugahku sore tadi.
"Kamu ada satu kota denganku, tapi kenapa aku justru menghabiskan soreku dengan orang lain?" katamu.
Inilah sebuah dunia yang cacat kataku. Ruang dan waktu tidak selamanya bersahabat. Seperti halnya bahasa dan kata yang tidak selamanya terucap.
Seperti cerita suram dari Homo Jakartanensis-nya Seno. Orang menjadi begitu sibuk. Sampai tak tahu lagi apa yang dilakukan dalam kesehariannya. Orang sibuk mengantri di dimana-mana, tapi begitu sampai di depan justru bengong terlongong-longong dan bertanya,"Aku ngantri ngapain ya?"
Aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang kita pikir sehari-hari ya? Aku pakai segala macam cara untuk menyapamu. Jutaan huruf ada di otakku, tersusun rapi, kusiapkan teliti, untuk kuucapkan ketika kita bertemu. Tapi ketika bertemu, itu semuanya lenyap. Bukan karena aku tidak suka bertemu denganmu, tapi karena aku terlalu girang melihat wajahmu sampai aku lupa mengapa aku harus bertemu denganmu. Atau, yang kutakutkan jangan-jangan aku sudah terlalu menikmati bercakap denganmu sambil menatap layar monitor dan tebaran huruf-huruf celaka di dalamnya yang bikin kepalaku pening!
Aku tahu kamu terusik seperti halnya aku.
"Jadi, kita bertemu untuk apa ya?"
Tuesday, March 21, 2006
Senja di atas Gazibu
untuk kekasihku
baru saja aku melihat senja
senja yang sama
seperti yang pernah kulihat
sewarna rambut kekasihku beberapa bulan lalu
senja itu masih sama seperti kemarin
seperti kemarinnya
dan seperti kemarinnya lagi
senja biasa
dengan matahari yang kelelahan
dengan sedikit mendung
dan sedikit jingga yang menggantung
senja biasa
tidak terang
dan tidak pula gelap
kadang ada bintang merah di ujungnya
kadang kalau aku beruntung
ada selarik cahaya matahari
yang terperangkap di sela awan
terurai menjadi cahaya warna warni
cahaya yang dulu selalu kuhayalkan dari surga
dan kini kutahu hanya ada di Bulan Desember
senja memang tidak biasa untukku
sepenggal waktu
berwarna oranye kemerahan
karena matahari belum sepurna tertelan cakrawala
dan terang belum beranjak sepenuhnya
menatap senja
menatap lukisan di kanvas langit barat
ketika Sang Juru Taman menata bata
untuk pagar tamanNya
baru saja aku melihat senja
senja yang sama
seperti yang pernah kulihat
sewarna rambut kekasihku beberapa bulan lalu
senja itu masih sama seperti kemarin
seperti kemarinnya
dan seperti kemarinnya lagi
senja biasa
dengan matahari yang kelelahan
dengan sedikit mendung
dan sedikit jingga yang menggantung
senja biasa
tidak terang
dan tidak pula gelap
kadang ada bintang merah di ujungnya
kadang kalau aku beruntung
ada selarik cahaya matahari
yang terperangkap di sela awan
terurai menjadi cahaya warna warni
cahaya yang dulu selalu kuhayalkan dari surga
dan kini kutahu hanya ada di Bulan Desember
senja memang tidak biasa untukku
sepenggal waktu
berwarna oranye kemerahan
karena matahari belum sepurna tertelan cakrawala
dan terang belum beranjak sepenuhnya
menatap senja
menatap lukisan di kanvas langit barat
ketika Sang Juru Taman menata bata
untuk pagar tamanNya
Labels: Laras